Jumat, 16 Juli 2010

TAS KULIT

TAS KULIT

Oleh: Nayla Shofiyah

MAN 2 Wates



 

 

Kabut masih menyelimuti kota Wates pagi ini, daun-daun masih basah menandakan tadi malam telah turun hujan. Sepagi ini, masyarakat sudah mempersiapkan kegiatannya, bersiap ke kantor, sekolah, atau ladang.

Tawa renyah terdengar dari sebuah rumah yang didiami empat orang. Seorang kepala keluarga, seorang ibu, dan dua orang anak. Suasana agak ribut dengan kekonyolan anak-anak yang tengah bersiap ke sekolah. Wanita tengah baya, Bu Yekti namanya. Berporsi  tubuh ideal dengan garis-garis keriput yang mulai tampak di kelopak mata. Ia seorang guru di sebuah madrasah di kota Wates, yaitu MAN 2 Wates. Suaminya seorang hakim di pengadilan negeri yang ada di kota itu juga. Profesinya memang berat dengan banyaknya godaan yang menghampiri. Kedua anaknya, yang pertama laki-laki bernama Aditama kini duduk di bangku SMP. Sedang adiknya, Fista masih di jenjang Sekolah Dasar.

Di rumahku hanya ada dua orang, aku yang masuk hitungan sebagai pelajar di MAN 2 WATES, tempat Bu Yekti mengajar dan ayahku Sujatmiko berprofesi sebagai pegawai perpajakan. Ibuku telah lama meninggal, kira-kira waktu aku berumur dua tahun karena penyakit Typusnya. Aku dan ayahku jarang sekali bertegur sapa, walau ucapan “selamat pagi”, memang… ayahku sibuk dengan urusannya sendiri, berangkat pagi-pagi sekali dan pulang malam ketika aku sudah tidur. Mungkin itu menjadi salah satu alasan mengapa aku terkenal nakal dan pembuat onar di sekolah, ruang BP pun kurasakan bagai ruang kamar mandi, karena sering sekali aku dipanggil guru BPku untuk diinvestigasi atas apa yang telah aku perbuat dan aku juga diberi wejangan yang nampaknya hanya ku anggap angin lalu saja. Aku juga tak begitu dekat dengan teman-temanku, aku agak sedikit tertutup, tapi aku punya seorang teman sejati, namanya Soim.

Deru mesin menyapaku. Rupanya, bu Yekti sudah mau berangkat mengajar.

Tindak…Bu…” ku dengar seseorang menyapa buYekti dengan logat jawanya yang kental. Nampaknya, ia seorang petani, itu terlihat dari cangkul yang tersangkut di pundaknya.

Inggih, Pak…”, jawab Bu Yekti santun. Ia guru yang disiplin dan tak pernah terlambat walau hanya dalam hitungan menit, karena pada prinsipnya ia tak mau korupsi. Memang, korupsi tidak hanya korupsi uang tetapi juga korupsi waktu. Ia tak mau disebut seorang koruptor.

Ia pernah menjelaskan di kelasku, menjadi guru adalah idamannya sejak kecil. Ia juga tak pernah mengeluh menempuh jarak yang berkilo-kilo mencapai tempat mengajarnya, karena ia menanamkan prinsip yang pernah diungkapkannya, “Pengabdian kita belum seberapa jika dibandingkan para pahlawan dulu yang rela berkorban harta, raga, nyawa bahkan berpisah dengan keluarga untuk bisa memperoleh kemerdekaan bangsa ini. Jadi, kita sebagai penerus pewaris bangsa harus mengisi kemerdekaan ini sebagai guru, ikut mencetak generasi muda agar mempunyai semangat dan intelektual serta perilaku mulia, mewujudkan cita-cita para pejuang dulu. Selain aktif dan berprestasi. Gunakan kepandaian kalian untuk membangun bangsa ini, jangan gunakan untuk menipu orang lain...” Begitu ungkapnya saat itu.

 

*********

 

Hari ini, kesekiankalinya aku dihukum tidak boleh mengikuti pelajaran. Mungkin, para guru stress sendiri menghadapi aku. Bagaimana tidak stress jika mereka mengajar aku malah tidur. Namun lain di pelajaran PKn, aku tak pernah tidur dan tak juga berbuat neko-neko. Bukan karena yang mengajar adalah tetanggaku sendiri, tapi karena aku merasakan kenyamanan bersama Bu Yekti. Kurasa hanya Bu Yekti yang bisa memahami keadaanku.

Berdiri menghadap tiang bendera, membersihkan kamar mandi maupun tak boleh mengikuti pelajaran adalah santapanku sehari-hari. Akan tetapi, di saat-saat aku menjalani hukuman itu, aku masih sempat membuat ulah. Pernah lantai kamar mandi guru aku siram pelincin lantai sehingga waktu kepala madrasah berjalan ke kamar mandi, beliau terpeleset dan hampir saja kepalanya terbentur dinding. Tentunya dapat ditebak!!! Aku diskorsing selama 2 minggu—tapi  itu semua sama sekali tak membuatku jera.

Sore itu, dari tirai jendela kamarku seperti biasa, Bu Yekti, suami, dan kedua anaknya bercengkerama di teras depan rumah mereka. Aku melihat keakraban mereka. Aku juga sempat mendengar obrolan mereka.

“Di saat-saat seperti ini hukum kok belum bisa diterapkan dengan konsekuen ya Pak? Ya.. bisa diibaratkan seperti telur setengah matang...” ujar Bu Yekti.

“Lho… kok, telur setengah matang to Bu? Hukum kok diibaratkan makanan?” sang suami bertanya dengan nada heran.

“Eits… jangan salah Pak… maksud telur setengah matang itu bukan telur yang ibu hidangkan untuk sarapan pagi, tetapi dikiaskan sebagai gambaran pelaksanaan hukum di masa kini yang baru dilaksanakan setengah-setengah. Banyaknya pejabat korupsi kasusnya masih tetap rumit dan makin membingungkan rakyat saja!!!”

Di masa kini, fakta bisa di balik semudah membalik telapak tangan. Satu kasus ternyata melibatkan banyak pemain. Yang terlihat di awal, memang hanya satu bonekanya saja, tetapi dalangnya bersembunyi di balik baju bonekanya.

“Tapi Bapak tak akan berbuat yang neko-neko, Bapak akan menjalankan kewajiban Bapak sebagaimana yang diamanatkan negara kepada bapak dan semoga Alloh menuntun bapak agar tidak tergelincir ke jurang kesesatan” ujar suaminya.

Lho Pak...Ibu percaya kepada Bapak!!! Satu pesan Ibu, ” berpegang teguhl pada sumpah jabatan untuk mendengarkan keadilan dan landasi pula dengan keimanan dan ketakwaan agar tak terkecoh lembaran rupiah…”

Mereka sangat akrab, saling mengerti satu sama lain, tidak sepertiku. Di rumah sendiri, setiap hari hanya bermain PS tak ada yang bisa dijadikan tempat curahan hati. Apalagi,  kini aku sudah kelas 3 MA. Saat-saat seperti ini, aku membutuhkan pengarahan karena sebentar lagi akan menjalani UN. UN dikatakan banyak siswa seperti monster yang menyeramkan dan kupandang hanya berbicara kognitif saja. Wajar-wajar saja kalau melihat fenomena siswa yang tak lulus sampai sebegitu histerisnya, meski  hatiku sebenarnya agak gentar juga.

Saat matahari tepat berada di atas kepala, udara terasa panas ditambah suasana hatiku yang panas mendengar kabar bahwa ayahku melakukan korupsi di tempatnya bekerja. Saat itu, aku masih ada di sekolah, dan aku pun berlari sekencang kilat pulang ke rumah. Aku pun terduduk lemas ketika sampai di kamarku. Aku ingin segera bertanya pada ayahku. “Ayah ...apa benar ayah korupsi?!!” Gelisah datang menghampiri,  kurasakan dada ini semakin sesak.

Ayah pulang lebih cepat dari biasanya, menambah dugaan tentang korupsi yang dilakukan ayah. Akan tetapi, aku belum juga bertanya ataupum berpapasan. Aku enggan!!!

Ayah kemudian mengatakan ingin ke rumah Bu Yekti.  Sewaktu kutanya ada apa gerangan ayah ke rumah Bu Yekti, ayah menjawab dengan nada tinggi. ” Ini urusan orang tua, anak kecil jangan ikut-ikutan!” Aku pan juga tak bisa menduga-duga apa keperluan ayah. Ya, mungkin hanya silaturahim biasa

 

************************

 

Ternyata benar apa yang dikabarkan tempo hari bahwa ayah korupsi. Itu ku tahu dari berita TV lokal. Ketika itu aku sendiri karena ayah sudah tidak ada di rumah. Dapat kuduga komentar teman-teman sangat membuatku terpuruk.  Itu ku tahu dari Soim, teman sejatiku. Sejak hari itu aku tak berani berangkat sekolah, aku malu pada teman-teman.

Aku  termenung. Terlintas dari anganku.....andai saja ibu masih hidup. Aku takkan seperti ini. Aku tak sendirian. Ada yang membelai rambutku. Teringat masa kecilku dulu....saat aku bersama ibu dan ayah bercengkerama di taman belakang rumah.  Ketika itu, aku masih berbuat konyol. Membuat semua orang tertawa melihat tingkahku. Aku ingat ibu pernah mengatakan kepadaku tentang harapannya.... “Jadilah seorang anak yang berguna bagi bangsa ini, Nak…..jadilah orang yang pandai tetapi jangan pandai menipu, tapi pandailah kau membawa nama bangsa ini.......“

Ketika itu juga, aku dengar ketukan dari pintu depan. Saat ku buka ternyata Bu Yekti. Aku tak tahu!!! Kini, kepalaku sudah ada di pangkuan Bu Yekti. Jemarinya membelai rambutku walaupun aku sudah Madrasah Aliyah, tapi aku masih ingin dibelai layaknya anak kecil.

“Bu .. saya bingung, sebentar lagi menghadapi ujian....tapi saya belum siap dan saya masih khawatir bagaimana nasib ayah……?“ Aku adukan semua ke Bu Yekti

“Fajar……kamu anak yang cerdas dan tegar. Ibu yakin kamu pasti mampu melewati semua ini dan ayahmu akan baik-baik saja. Yakinlah...Allah telah mengatur semua ini untuk kita. Mungkin, di balik ini semua...Allah akan memberikan sesuatu yang luar biasa untuk kamu!” Kata Bu Yekti.

“Tapi saya tak kuat menghadapi ini sendiri...” aku kembali merengek layaknya anak kecil.

“Kamu tak sendirian nak, Allah bersama kita… „ Kata-katanya yang terakhir mengusik hatiku. “Ya Allah..... kulupakan Engkau sekian lama!!! Aku terkecoh keindahan kemewahan dunia yang menyilaukan!!!!“

 

*******

 

Kurasakan hawa dingin merasuk tulang-tulang. Malam ini pertama kalinya aku sujud, duduk bersimpuh di hadapan Rabbku yang kutinggal selama sekian tahun. Ku buka Al Qur’an terjemahan berdebu di atas lemari. Kuresapi huruf demi huruf Al Qur’an dalam surat At Taubah ....dan aku tersentuh dengan kalimat pendek.                                   “Janganlah kamu berduka cita sesungguhnya Allah beserta kita”  Aku berdoa...“Ya Allah....berikan perlindungan dan keselamatan selalu pada ayah, ampuni dosa-dosanya Ya Rabbi.....berikanlah pula ibuku tempat yang paling indah di sisi Mu. Air mataku terus menetes. Terlintas di anganku waktu keluarga ini masih utuh.

Hati ini terasa damai sekarang. Sesak yang kurasa semakin longgar kulihat rembulan pun tersenyum padaku.

 

********************

Hari-hari terakhir ini aku masuk lagi ke sekolah tak peduli lagi olokan atau cercaan teman terhadapku. Aku juga lebih rajin mengejar ketertinggalanku. 27 Mei  2010, tanggal pertama aku ujian. Aku sempat nervous, tetapi sejurus kemudian  aku terus berusaha yakin dan percaya pada diriku sendiri, seperti kata Bu Yekti. Kunci itu terletak pada dirimu sendiri!!!!

Hari-hari yang masih panjang kujalani dengan tegar, meski terkadang pesimis menghampiri. Kurasakan kedamaian walau ada rasa deg-degan menanti hasil ujian. Aku yakin sukses karena aku telah membuka soal-soal ujianku dengan kunciku sendiri dengan kemampuanku sendiri dan aku tak ragu sedikitpun.

 

***********************

 

Aku baru tahu, ternyata kedatangan ayahku sore itu ke rumah Bu Yekti untuk meminta bantuan suami Bu Yekti, agar kasus korupsi yang dialami ayah tidak dilanjutkan. Ayah, aku malu! Setiap hari di sekolah teman-teman selalu membicarakan kegeraman mereka  pada korupsi yang dilakukan pejabat. Setiap diskusi....teman-teman mengutuk korupsi. Aku hanya diam. Ya.. karena Ayah pelakunya! ayahku yang dikutuk…..

Aku harus mengakui, keluarga Bu Yekti memang luar biasa. Meski mereka kekurangan mereka tak mau menerima suap dari Ayah. Bahkan ketika Ayah mengancam mereka tak takut……

Kudengar berita di media lokal, ayah akhirnya menyerahkan diri ke Polisi dan akan diadakan proses peradilan terhadap kasusnya. Ayah ……..aku kagum keberanian ayah untuk mengakui semua perbuatan ayah.

 

*******

1 Juni 2010

Hari pengumuman tiba rasa deg-degan debar jantung ini semakin terasa. Saat aku dipanggil wali kelasku ke depan rasa ini semakin tak karuan.

“Fajar.....maju!!!!“

Semua mata tertuju padaku. Aku pun maju dengan langkah yang amat berat. Kenapa? Ada apa?

Bu Yekti, yang juga wali kelasku—menyalami  aku dan memberikan sebuah tas dari kulit. Aku masih belum tersadar dengan kenyataan ini. Ketika Bu Yekti menyalamiku untuk yang kedua kalinya, aku baru sadar. Aku telah lulus!!! Hadiah itu? Hadiah itu adalah penghargaan atas perubahan besar yang telah aku lakukan........

Aku pun sujud syukur.

“Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah....“

    

Selesai

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar