Jumat, 09 Juli 2010

Pahlawan Sejati

Pahlawan Sejati
Oleh : Ihwayati





“Theng…theng…theng…….”
Kudengar dentang jam tiga kali. Ini adalah waktu dimana aku harus bangun. Namun, tusukan angin pagi membuatku malas beranjak dari tempat tidur. Kutarik selimut dan akupun mulai terlelap kembali.
“ Aya, bangun nak, sudah jam empat nanti sholatnya telat,” kudengar suara lembut ibu membangunkanku dari pintu kamar.
“ Ya Bu, sebentar,” jawabku sambil mengucek-ucek mata. Mata ini sungguh tak bisa diajak kompromi. Sulit sekali diajak melihat dunia. Memang tadi malam aku begadang menyelesakan tugas Bahasa Indonesia.Lalu aku belajar menuangkan rasaku lewat kata-kata indah. Ternyata asyik juga membuat puisi sampai aku tak sadar jam sudah menyanyi dua kali. Virus-virus kantuk masih menggantung di pelupuk mata. Akan tetapi kupaksakan juga untuk bangun. Kulipat selimut dan kurapikan tempat tidur kemudian bersegera keluar dan mengambil air wudhu. Namun ketika sampai dapur kulihat ibuku sibuk menggoreng sesuatu. Ternyata beliau asyik menggoreng makanan kreasi barunya, kripik batang pisang.
“ Banyak sekali gorengnya, Bu, sini Aya bantu,” kataku menawarkan bantuan.
“ Sudah tinggal sedikit lagi, segera bangunkan adikmu dan ambil air wudhu,” jawab ibu. Aku tak bisa membantah lagi dan bergegas ke kamar adikku.
“ Dik Arif, bangun, sholat!” kubangunkan dia dengan satu kali goyangan.
“ Akh… jam berapa, kak?” tanyanya dengan mata masih terpejam.
“ Jam 4.15. Sudah ditunggu ayah dan ibu lho,” kataku lagi sambil meniggalkannya.
Aku, ayah, ibu dan adikku sholat subuh berjamaah di ruang tengah. Waktu ini adalah waktu yang paling membahagiakan bagiku. Kehangatan keluarga menyelimuti pagi yang dingin ini.
“ Assalamu’laikum warahmatullahi wabarakatuh, Assalamu’alikum warahmatullahi wabarakatuh,”ayahku mengakhiri sholat subuh pagi ini. Segera kucium tangan kedua orang yang sangat kesayangi, ayah dan ibu. Dilanjutkan dengan doa bersama dan tadarus bersama.
“ Aya,” panggil ibu setelah selesai sholat.
Beliau sudah rapi dengan pakaiannya.
“ Ya, Bu,” jawabku mendekat.
“ Nanti kamu bawa kripik ibu ke sekolah ya, titipkan di kantin atau kalau tidak di kelas saja. Semoga teman-teman kamu suka dengan kripik ibu,” kata ibu sambil menata kripik-kripik itu ke beberapa plastik.
“ Aya malu Bu, nanti ditertawakn teman-teman,”jawabku jujur.
Spontan saja aku menolak, baru kali ini aku disuruh ibu menjual sesuatu ke sekolah. Nanti apa kata teman-teman? Mereka sering mengolok-olokku orang miskin.
“ Nak, mencari rejeki tidak boleh malu, apalagi jalan itu halal. Jangan malu untuk berbuat baik. Allah akan selalu meridhoi orang-orang di jalan yang benar,”nasehat ibu kepadaku.
Suara itu begitu lembut. Mengetuk hatiku yang paling dalam. Aku menjadi sangat bersalah.
“ Oh, ya. Ibu nanti akan mencoba dagang ke pasar pagi-pagi.Ibu ingin beraktifitas, daripada menganggur di rumah,” kata ibu. Kata-kata itu sungguh mengejutkanku.
“ Ibu mau dagang?” tanyaku kaget, karena orang yang kucinta satu ini sedang mengandung adikku. Kira-kira sudah empat bulan.
“ Ya, untuk tambahan kebutuhan kita. Kamu tahu kan, dengan penghasilan ayahmu sat ini sulit untuk memenuhi kebutuhan kita. Ibu sudah bersyukur tetapi ibu akan tetap berusaha,” jawab ibu dengan tenang.
“ Tapi ibu kan sedang hamil, kasihan adik, Bu. Ibu di rumah saja, insya Allah, Allah akan memberi kelebihan kepada kita, demi kesehatan ibu,” kataku menanggapi.
“ Manusia harus ikhtiar Aya, ibu berangkat dulu, itu kripiknya dibawa, jangan lupa belajar yang rajin ya,” kata ibu mengakhiri pembicaraan pagi ini.
“ Hati-hati Bu,” aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Sungguh tekad ibu sangat besar untuk keluarga ini.
“ Lindungilah ibu Ya Allah,” doaku dalam hati.
“ Pak ibu berangkat dulu, Assalamu’alaikum,” pamit ibu sambil mencium tangan ayah.
“ Wa’alaikumussalam, hati-hati Bu,” dua patah kata yang keluar dari mulut ayah.
“ Yah, mengapa ayah tidak mencegah ibu?” tanyaku pada ayah.
“ Kemarin ayah juga sudah melarangnya, tetapi ibumu tetap ingin pergi, ayah juga tak bisa bicara apa-apa lagi, Ya kita doakan saja semoga ibumu selamat,”jawab ayah.
“Amin…” kataku menimpali.
Begitulah, setiap hari ibu berangkat ke pasar pagi-pagi sekali dengan sepeda onthel dan keranjang dagangnya. Semakin hari semakin banyak pelanggannya. Waktu pulang sekolah aku sering berkeliling kota. Kulihat betapa gigihnya ibu menawarkan dagangannya.
“ Sayur…sayur, Bu, sayur…Pak,” teriak ibu di sepanjang jalan.
Sebenarnya ibu begitu lelah, letih dan lemah. Beberapa kali peluh mengalir menganak sungai membasahi baju kebesarannya. Halnya dengan ayahku, beliau hanya seorang buruh bangunan yang bekerja jika ada pekerjaan. Jika ada waktu luang, beliau merumput untuk kedua kambing keluarga kami.Tetapi penghasilan beliau masih kurang untuk kebutuhan kami sekeluarga, apalagi untuk biaya sekolah aku dan adikku. Tetapi aku sangat bersyukur masih diberi ayah oleh Allah.
Suatu hari sepulang sekolah aku kembali menyusuri sepanjang jalan di kota. Tanpa sengaja kulihat keranjang ibu dikerumuni orang banyak sampai ibu tak kelihatan.
“ Pasti pelanggan ibu,” kataku dalam hati.
Tetapi lama kelamaan kulihat orang-orang itu menggotong seseorang dan yang paling mengagetkan itu adalah ibuku.
“ Ibu………”teriakku sambil mengayuh sepedaku dengan kecepatan tinggi. Mata orang di sekitar jalan terpaku kediriku dengan hati yang penasaran. Aku begitu cemas. Setelah sampai di sana kugoyang-goyangkan tubuh yang tak berdaya itu.
“ Ibu…ibu…bangun, Bu,”kataku setengah menangis.
“ Minta minyak ,Bu,”pintaku pada ibu-ibu di sekelilingku.
Segera kuciumkan minyak itu ke hidung ibu. Sudah beberapa sekon berlalu tetapi ibu belum siuman juga.
“ Dibawa ke rumah sakit saja, Mbak!” usul seorang ibu kepadaku. Aku semakin cemas. Namun sebelum aku menjawab, mata terpejam itu mulai membuka perlahan.
“ Aya...,”ibu kelihatan terkejut melihat aku di sisinya.
“ Ibu kenapa?” tanyaku sambil kupijit-pijit tangannya.
” Ibu tidak apa-apa hanya pusing sedikit, kok kamu di sini?”ibu balik bertanya kepadaku.
“ Aya tadi nggak sengaja lihat ibu di sini,”jawabku.
“ Ibu masih lemas lebih baik pulang dulu saja, saran seorang ibu di sekeliling kami.
“ Iya, hamil juga dipaksakan, suaminya kemana sih? Sampai anaknya juga turun tangan,” kata-kata ibu pelayan toko di dekat kami menusuk hati ibu.
“ Paling juga pergi tak jelas, anak istri tak dicukupi,” ibu yang satunyam menambahkan.
“ Keluarga saya keluarga baik-baik, Bu, jadi jangan membuat fitnah yang tak benar,”kata ibu menanggapi.. Luar biasa dengan tenang ibu menanggapi comoohan orang-orang itu.
“ Ya sudah Bu, ibu pulang saja, Aya panggilkan ojek ya,” kataku sambil berlari menuju pangkalan ojek. Tak lama kemudian aku kembali dengan seorang tukang ojek.
“ Pak, tolong antarkan ibu saya ke rumah!”kataku pada tukang ojek itu.
“ Baik, Neng. Mari Bu,” kata tukang ojek itu.
“ Terimakasih ya nak, kamu anak yang berbakti, nanti keranjangnya biar diambil ayahmu. Ibu-ibu terimakasih atas bantuannya,” kata ibuku sebelum meninggalkan kami.
“ Alhamdulillah, Tak terjadi apa-apa dengan ibu,”kataku dalam hati. Aku segera meninggalkan tempat itu tanpa lupa mengucapkan terimakasih kepada ibu-ibu yang baik hati itu itu. Hari ini guruku memberi tugas membuat puisi. Aku bingung mau membuat dengan tema apa. Tiba-tiba aku ingat sesuatu. Akupun segera khusuk menuangkan kata-kata puitisku. Aku merasa pena ini sungguh mudah bergoyang di atas kertas putihku.
“ Ayo siapa yang akan maju duluan, ibu beri nilai plus,” kata guruku keesokan harinya. Dengan segala keberanianku akupun maju membaca tulisan penaku tadi malam.




BUNDA

Kala malam membentang
Hatiku gundah tak beraturan
Suara hati tak berirama
Sebentar saja anganku mulai terbang
Menjelajahi setiap neurit yang pernah dilewatinya
Tiba-tiba memoriku menangkap sesuatu
Bunda…
Hatiku menjerit mengingatnya
Roman mukanya yang sayu
Tubuhnya yang lemah lunglai
Bayangan itu berkelebat-kelebat
Memenuhi sudut hati dan sarafku
Raga itu harus membanting tulang
Membawa gerobak dagangnya
Menyinggahi setiap sudut kota
Seketika saja peluh mulai mengucur
Membasahi baju kebesarannya
Tak jarang pula hujan mengguyurnya
Menyerang dengan peluru-peluru beningnya
Hatiku mulai menangis
Merasakan betapa pahitnya hidup ini
Bayangan itu semakin kabur dan hilang perlahan
Dan akhirnya terbawa ke perjalanan indah malam itu

Sorak sorai teman-temanku menggema setelah aku membaca puisi itu. Ya, aku begitu menghayatinya. Aku tak tahu segini dalam perasaan sayangku kepada bunda. Aku membaca sampai meneteskan air mata. Aku memang sangat menyayangi ibuku. Saat itu juga Bu Guru memberiku nilai plus. Beliau sangat terharu dengan puisiku. Aku bersyukur, ternyata semua perjuangan ibu memberikan inspirasi sehingga aku dapat nilai yang memuaskan.
Kemarin adalah hari terakhir ibu dagang. Kata dokter ibu harus banyak istirahat dan mengurangi mpekerjaan berat. Tak lama lagi ibu akan segera melahirkan. Hari itupun datang juga. Hari Senin pukul sepuluh ibu merasakan sakit yang luar biasa. Dengan mobil tetangga beliau dibawa ke rumah sakit untuk bersalin. Hatiku dag…dig…dug…der menanti kelahiran adikku. Beberapa kali kudengar erangan ibu. Detik demi detik, menit demi menit berlalu, tetapi belum ada kabar dari ruang khusus itu.
“ Oek…oek….”
“ Alhamdulillah…,” kataku bersama ayah dan adikku.
“ Bagaimana keadaan istri dan anak saya dok?” tanya ayah kepada dokter. Papan nam di dadanya menunjukan nama Siska.
“ Alhamdulillah putri bapak sehat, ibu juga selamat. Saya lihat perjuangan beliau sangat besar,” jawab dokter Siska.
Aku ayah dan adikku segera masuk ke ruang bersalin itu.
“ Ibu………,” teriakku sambil menghambur ke pelukan ibu.
“ Sekarang kamu sudah punya teman Aya, adik kamu perempuan,” kata ibu menyenangkan hatiku.
“ Ya, Bu Aya senang sekali, Nama adik siapa, Yah?” tanyaku pada ayah.
“ Ya besok ayah tanya dulu di konsultan nama,” kata ayah bergurau.
“ Ih…, Ayah ada-ada saja,”kataku sambil tertawa.
Kami sekeluarga tertawa bersama. Betapa membahagiakannya hari ini. Kutatap wajah sayu di atas tempat tidur itu. Sosok yang begitu tabah, sabr, kuat dan luar biasa. Seorang pahlawan yang benar-benar tanpa tanda jasa. Ibu…ibu…ibu…sungguh besar pengorbananmu untuk keluarga ini. Aku tak akan pernah bisa membalas kasihmu sampai kapanpun dan kau akan selalu di hatiku selamanya. Ibu, pahlawan sejatiku.

“ Ya Allah lindungilah selalu pahlawan sejatiku,” doaku kepada Allah.

Back

Tidak ada komentar:

Posting Komentar