Jumat, 09 Juli 2010

Satu Nama Saja

Satu Nama Saja

Oleh: Nila Astriyanti

klik untuk ke ke depan


BIODATA PENULIS

Nama : Nila Astriyanti
NIS :3836
Sekolah : MAN 2 Wates
Alamat : Jalan Khudhori 40, Wonosidi, Wates, Kulonprogo, DI Yogyakarta
TTL : 26 Desember 1991
 
Judul naskah : Satu Nama Saja
Sasaran : MA/SMA/SMK








Sinopsis



Azizah, seorang siswa SMA kelas sebelas. Dia tinggal di pinggiran kota, dengan kehidupan yang sederhana. Sejak lahir, ia sudah berstatus sebagai anak yatim. Dengan begitu, mau tak mau, ia harus bekerja membantu ibunya, guna memenuhi kebutuhan hidup.
Walau di sekolahnya tidak diwajibkan memakai jilbab, ia senantiasa mengenakan jilbabnya. Walau kadang, ada temannya yang jail, mengatainya seperti emak-emak. Azi, seorang gadis yang hobby menulis, bahkan dua sahabatnya senantiasa mendukung hobby Azi tersebut.
Suatu hari ia keluar dari pekerjaannya sebagai guru les, dan menjadi guru mengaji pada suatu keluarga yang sangat kaya. Ia mengajar dua anak yang sebaya dengannya, Bayu dan Mizan. Azi mencoba menyikapi gejolak asmara yang mulai tumbuh pada jiwa remajanya. Ia ingin menjalani hari hingga tidak ada satupun di antara pangeran cinta yang diterimanya. Azi berpegang hanya pada satu nama saja….
Satu



Udara siang ini bertiup pelan. Menggoyangkan daun-daun dan ranting-ranting pohon. Suasana panas menjadi agak sejuk, dengan kehadiran sepoi-sepoi angin, membuat mata menjadi cepat mengantuk. Terdengar suara gemericik air mancur sederhana di tengah taman sekolah.
Di kursi kayu itu, duduk gadis mungil, berjilbab sederhana. Tangannya lincah memainkan pena hitamnya. Kata demi kata ia rangkai layaknya hidup yang merangkai impian indah.
Gadis mungil itu bernama Azizah. Teman sekolah dan teman sebayanya memanggilnya Azi. Dalam hari-harinya, ia tak bisa lepas dari pena dan buku. Hampir setiap hari tangan yang lincah itu, menciptakan puisi-puisi yang bertemakan religi, percintaan, persahabatan, bahkan perasaannya di kala menulis puisi tersebut. Kepandaian Azi dalam merangkai dan menyatukan kata, mampu menciptakan puisi-puisi yang begitu indah dan menyentuh hati Si Pembaca.
Dalam usianya yang baru enam belas tahun, Ia tergolong anak yang minder dalam pergaulan dengan teman-temannya. Tak banyak bicara, walau pada dasarnya Ia cerewet. Dua sahabatnya yang selalu setia, ada di dekatnya, Izam dan Chasan. Mereka berdua adalah sahabatnya sejak SMP. Hingga SMU pun, mereka tetap bersahabat dengan baik.Walau kadang Azi ditinggal sendiri, lantaran Izam dan Chasan sibuk mengurus mading sekolah yang sebulan sekali, selalu ganti wacana.
Kadang memang dipandang aneh oleh beberapa teman lainnya, tapi memang itulah adanya. Karena dalam persahabatan, tak ada niatan mencari kejayaan. Akan tetapi mengetahui apa itu arti kehidupan manusia tanpa hadirnya seseorang. Tak heran jika banyak obrolan yang selalu meriasi mereka ketika berkumpul. Tak kan ada kata bosan walau sering bertemu.
Ciptaan puisinya begitu melimpah. Tapi hanya disimpan. Jika sudah lama dan terlihat lusuh, pastilah hanya diterbangkan angin begitu saja. Bahkan Izam dan Chasan sudah berkali-kali memberi saran pada Azi, agar karyanya itu, dipublikasikan ke majalah atau media cetak lainnya. Akan tetapi, Azi selalu menanggapi saran sahabatnya itu dengan cuek saja.
“Zi…puisi-puisi ini bakal buat apa?! Kamu hanya menulis….terus….!!”Kata Chasan suatu hari.
“Buat pribadi !!”Jawab Azi singkat.
“Cie….pribadi….emm, kenapa tidak dikirim ke majalah saja??”Saran Chasan.Azi berhenti menulis. Azi pun diam sejenak. Tampaknya, ia memikirkan juga saran sahabatnya itu.
“Hm…belum minat saja….lagi pula aku buat hanya iseng saja.”Kata Azi pada akhirnya.Sedang tangannya kembali menulis dengan cekatan.
“Aduh,,Zi!?Kamu tidak sadar apa, karya kamu ini, bagus banget…..Dan please deh,,,jangan nyuekin aku seperti itu!!”
“Ha? Maaf ya!!”Kata Azi sambil meletakkan pena dan bukunya kembali.”Aku tak bermaksud nyuekin kamu, Chas!! Kamu kan tau, aku seperti apa!?”Kata Azi sambil memandang wajah Chasan yang cemberut.
Kadang terpikir oleh Azi, mengapa ia dapat bersahabat dengan Izam dan Chasan. Chasan cantik, dengan rambut terurai panjang dan sedikit mengombak. Dia juga pandai bicara, jadi tak salah jika Chasan menjadi reporter majalah dinding sekolah. Jika berjalan dengan Chasan di tempat biasa anak sekolah nongkrong, pastilah banyak yang mengenal Chasan. Walau begitu, tetap seimbang dengan kepandaiannya saat di sekolah Sedang Izam, Ayah dan Ibunya adalah pengusaha tekstil. Walau belum menjadi pengusaha yang besar, tapi sudah bisa dibilang sukses. Dia juga tampan. Banyak teman wanita yang mengejar dirinya. Tapi entah mengapa dan kenapa, sampai saat ini, ia masih senang menjomblo. Kalau ditanya, jawaban yang muncul tak pernah serius. Pasti dijawab dalam bentuk gurauan belaka. Bahkan teman-temannya pun percaya begitu saja. Dulu sempat mencuat kabar, kalau Izam berpcaran dengan Azi juga Chasan. Kontan saja nama mereka langsung terkenal di setiap sudut ruang sekolah.Tapi itu sudah menjadi masa lalu. Lalu terpikir kembali oleh Azi, bukankah dengan suatu perbedaan akan menjadi lebih hidup. Ibarat sebuah lagu, jika nadanya rendah semua akan terdengar jelek.
Dari koridor seberang, terlihat Izam sedang berlari menerabas taman sekolah yang terlihat hijau, menuju tempat Azi dan Chasan.
“Hah….heh….eh…heh….”Suara nafas Izam yang terengah – engah.
“Kenapa, Zam!!Dikejar – kejar setan ya??” Tanya Chasan.
“Heh…heh….heh…..capek….capek…..!!!”Kata Izam yang masih terengah-engah.
“Siapa juga yang nyuruh lari-lari, jalan kaki saja sampai….!!”Kata Chasan cuek dan tanpa belas kasih pada Izam. Sedang Azi, hanya menyumbang senyuman untuk kedua sahabatnya itu.
“Tidak ada!! Tapi ini gila…benar-benar gila…!!”Kata Izam.
“Gila? Gila kenapa?! Istighfar dulu Zam.Biar tenang, baru kamu cerita!!” Kata Azi.
“Astaghfirullahalazim……!!!” Ucap Izam.
“Nah begitu, baru kamu cerita…” Kata Azi lagi.
“Iya,,, terima kasih, Zi!!” Kata Izam sambil memandang Azi.Dan Azi hanya dapat menundukkan kepalanya,tersipu malu.”Eh,,,tau tidak…??”
“Tidak!?” Kata Chasan yang memotong kalimat Izam.
“Uh…Chas, please dong…aku itu mau cerita….tidak sopan banget…!?” Kata Izam, dengan wajah yang terlihat sudah frustasi.
“Aku penasaran sekali ….!?” Kata Azi.
“Begini, kemarin itu si Vara dan Rifki minta sumbangan katanya buat membantu Kasih. Tapi, uang sumbangan dari teman-teman itu, tidak sampai ke tangan Kasih. Terus, tadi ada yang bilang kalau uangnya di pakai Vara dan Rifki buat beli hp baru…..” Kata Izam menceritakan hal tersebut pada kedua sahabatnya.
“Ya Allah….tega banget sih si Vara dan Rifki ….” Kata Azi.
“Wah, itu tidak bisa didiamkan saja!!harus ada tindakan tuh!!” Kata Chasan dengan emosi sambil menepuk-nepukkan kedua tangannya.
“Huu….dasar, sok berani banget sih kamu?! Entar kalau ada orangnya tidak berani melakukan apa-apa….!!” Kata Izam.
“Ha!! Jangan salah, pasti beranilah….couse sekarang aku ini seorang pembela kebenaran yang tak pernah takut……”
“Eits…..yang bener?? Sama Pak Bowo, juga tidak takut?!!” Tanya Izam. Sedang Azi seperti biasa hanya menyumbang senyuman saja sambil geleng-geleng kepala.
“Em…em …bagaimana ya?! Kalau sama Pak Bowo, aku harus berfikir belasan kali Pak Bowo kan , Mr Killer….’’ Kata Chasan.
“Jangan begitu…Beliau kan Guru kita juga. Lagian kalau tidak ada Pak Bowo, Siswa di sini tidak akan setertib ini!!” Sanggah Azi.
“Ya kalau tidak ada Pak Bowo, kan ada guru yang lain…!!” Bantah Chasan yang memang selalu begitu. Jika omongannya disanggah, pasti dia akan balas membantahnya. Chasan tak pernah mau mengalah. Jika yang diajak bicara tidak mau mengalah, pasti ribut.
“Ya sudah…. sudah….pendapat orang kan beda-beda, jadi tidak usah ribut….” Kata Izam menengahi Chasan dan Azi. Walau Izam tahu, Azi pastilah mengerti dengan sikap Chasan. Dan Azi pun pasti mau mengalah. Lalu Izam memandang ke arah Chasan. Dilihatnya bibir Chasan yang tipis itu cemberut bukan main.”Nah… liat, Zi, bibirnya, bisa mengalahkan pantat ayam…..!!” Kata Izam menggoda.
“Senyum…..!!” Kata Izam sambil bergaya seperti fotografer.
“Hem….em….” Senyum dan tawa Chasan yang ditahannya.
Tiba-tiba saja suasana menjadi tenang hanya terdengar suara Siswa-siswi lain dari berbagai sudut sekolah. Angin yang berhembus menerpa kulit yang terasa gerah karena keringat. Suara-suara lain yang ikut meramaikan suasana sunyi itu. Suasana tenang itu pecah, ketika Azi menerima telepon. Azi pun, sedikit menjauh dari kedua sahabatnya itu.
“Assalamu’alaikum…!!” Kata Azi menyambut telpon.
“Wa’alaikum salam…!!” Jawab suara seorang wanita di seberang.”Maaf…ini dengan saudara Azizah?! Tanya suara itu dari seberang.
“Em…Iya benar!! Ada apa?!“ Sahut Azi.
“Ini Ibu Endar.” Kata wanita itu dengan menyebutkan namanya.
“Oh, Ibu Endar..., ada keperluan apa ya Bu? Sepertinya penting.” Kata Azi dengan tampak akrab. Ibu Endar adalah salah seorang pemimpin di tempat Azi bekerja. Walau masih bersekolah, Azi menyisihkan waktu luangnya untuk mengais rejeki. Membantu Ibunya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membayar utang-utang keluarga.
“Begini, Nak Azi…Keluarga Pak Aldi, sudah memutuskan untuk tidak memakai kamu sebagai guru les putranya, Lingga. Jadi, nanti sore, Nak Azi tidak usah datang ke rumah keluarga Aldi.” Kata Bu Endar dari telepon.
“Kenapa ya Bu?? Apa cara saya mengajar les pada Lingga salah atau kurang berkenan di hati Pak Aldi?!” Tanya Azi denagan suara parau.
“Saya tidak tahu menahu tentang hal itu… kalau kamu mau saya bisa carikan tempat kerja yang baru.” Kata Bu Endar memberi saran.
“Insyaallah…,,saya nanti ke kantor Ibu!!” Kata Azi.
“Ya sudah.!!”
“Ya Bu,terima kasih…!!”
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam “ Jawab Azi sembari menutup telepon. ”Huh…,” kata Azi sambil menghela nafas. Ia pun membalikan badan. Kembali ke tempat kedua sahabatnya tadi. Kedua sahabatnya pun berhenti cekikikan, karena melihat raut wajah Azi yang begitu lesu.
“Azi…..Kenapa?? Tadi itu siapa yang telpon??” Tanya Chasan pelan.
“Bu Endar!! Beliau memberi tahu kalau keluarga Aldi, tempat aku kerja, sudah tidak butuh guru les buat anaknya….!!” Kata Azi dengan suara yang terdengar sangat lesu.
“Hem….sabar ya Zi!? Terus sekarang kamu tidak kerja lagi….??” Tanya Chasan.
“Iya, tadi Bu Endar bilang ke aku, kalau aku mau dicarikan tempat kerja lagi…..tapi pasti pakai daftar lagi….terus bayar lagi…!!” Kata Azi.
“Em…Kalau boleh kasih saran, teman ibuku ada yang cari guru les ngaji, buat anaknya. Kamu kan bisa ngaji, udah khatam empat kali lagi…. kamu mau tidak jadi guru les ngaji …..??” Kata Izam menawari.
“Aku mau, Zam!! bagaimana caranya aku menghubungi teman ibu kamu itu….??” Tanya Azi dengan airmuka bahagia karena telah menemukan pekerjaan baru Tentunya suatu harapan cemerlang untuk membantu Ibunya.
“Nanti pulang sekolah, kita mampir ke rumah aku ….Entar aku yang bilang sama ibuku…..!!” Kata Izam.
“Aku ikut….!!!” Kata Chasan.
“Tadi aku bilang kita, kan?? Jadi ya bertiga dong ….. bagaimana sih, Non??”
“Ieh….Izam….!!” Kata Chasan manja. Izam dan Azi hanya membalas dengan senyum penuh kasih sayang pada sahabatnya yang satu ini.
Mereka pun meninggalkan tempat yang sejuk itu dan kembali ke kelas masing-masing. Chasan dan Izam, satu kelas di IPA 1B, sedangkan Azi, berada di kelas IPS 1A. Chasan dan Izam sangat terburu-buru, cepat-cepat untuk masuk kelas, karena saat itu adalah jam mata pelajaran Mr Killer, Pak Bowo, maksudnya…. Sampai di depan pintu kelas, langkah cepat Izam berhenti mendadak. Dengan begitu, Chasan menabrak Izam. Tanpa ada rencana, sedikit ribut dengan Izam terjadi, karena Chasan dan Izam saling menyalahkan. Pak Bowo pun tertarik pada suara ribut itu!!
“Siapa?!” Kata Pak Bowo dengan suara berat yang menakutkan.
“Kami, Pak!!”
“Chasan dan Izam rupanya……!!” Kata Pak Bowo sambil berjalan menuju kea rah Chasan dan Izam.
Duh, gayanya seperti orang sukses saja! Kata Chasan dalam hati. Waduh celaka tujuh belas nih, Bakal malu banget, kata Izam pula dalam hati. Suasana kelas sudah hening dan tegang.
“Dari mana kalian?!” Tanya Pak Bowo.
“Em… dari…!!”
“Pacaran ??” Potong Pak Bowo.
“Ha??” Kata Chasan dan Izam bersamaan dan diiringi muka bengong yang culun.
Tawa meledak di dalam kelas. Tapi Pak Bowo tak sedikit pun memperlihatkan air muka bercanda. Mukanya muram dan serius.sedang Chasan dan Izam merasakan keringat dingin yang keluar membasahi badannya.
“DIAM!!!” Teriak Pak Bowo. Kelas pun langsung hening, kalau sudah begini, tak satu pun yang berani membuat suara. Sedang Chasan dan Izam sudah tidak tahan malu. Di depan kelas dan teman-teman pula.
“Kalian ikut saya ke kantor!!” Kata pak Bowo sambil berjalan menuju kantor guru. Sesampainya disana, Pak Bowo sambil berjalan menuju kantor guru. Sesampainya di sana, Pak Bowo meengambil dua sapu lantai, dan melemparkan ke arah Chasan dan Izam dengan kasar.
“Kalian bersihkan kantor guru ini!! Tidak hanya hari ini, tapi selama satu minggu….” Kata Pak Bowo geram, sambil berlalu kembali ke kelas.
“Huh… untung badanku tidak ada yang copot…!!“ Kata Chasan.
“Maksudnya??” Tanya Izam heran.
“Coba kalau kita tadi dipukul atau diapain gitu..!!”
“Pak Bowo tidak akan begitu… Insyaallah, Beliau masih punya sudut ruang hati yang terang…”
“Wau...wau…dalam banget, Ching??” Kata Chasan.
“Biarin…” Jawab Izam singkat dan mulai menyapu lantai.



Dua



Hari ini terasa lama sekali. Apalagi dengan hukuman Pak Bowo dan tidak mengikuti pelajaran sastra dari Pak Bowo yang dengan jelas dan pasti, tidak akan mungkin Pak Bowo mau mengulang dan menjelaskan kembali kepada siswa yang ketinggalan pelajarannya. Jangan pernah mengharap nilai lebih dari enam, jika sekali saja bolos dari pelajarannya Pak Bowo. Dengan tak diharap, ternyata tukang kebun sekolah dengan baik hati datang membantu Chasan dan Izam. Jadi, hukuman pada hari itu cepat selesai. Tak lama, bel pulang pun berteriak nyaring. Semua siswa berhamburan keluar kelas, pulang ke rumah masing-masing. Tiba-tiba hp Izam berbunyi, tanda sms masuk. Ternyata Azi.


Zam,Qm dMaNa??
jAdi dWnk kT4 Qm!!
Q tgu Qm 5 Chasan
d dpn GrBng ea…!!


“Chas, sudah ditunggu Zi, nih!!” Kata Izam.
“Iya-iya tau… sebentar ya!!” Sahut Chasan. Sedang Izam sibuk memainkan jemarinya di atas keypad Hp nya, membalas sms Azi. Pesan terkirim.


Ea...bntr, cz Chasan lama
Ni Ge klwr …..!!!!!


Dengan sabar Azi menunggu di depan sekolah. Di pos jaga, ada Pak Midun, seorang satpam sekolah.Pak Midun hanya senyum-senyum melihat Azi. Katanya sih, Azi mirip dengan anaknya yang ada di kampung. Jadi Azi lah yang selama ini jadi obat penawar rindu Pak Midun pada anaknya di kampung.
“Nunggu siapa, Non??” Tanya Pak Midun.
“Eh, lagi nunggu teman, Pak!!” Jawab Azi dengan agak gugup tapi mencoba untuk tetap sopan.
“Oh, nunggu Non Chasan dan Den Izam, ya?!” Kata Pak Midun.
“Kok Bapak tau…..??” Tanya Azi heran.
“Ah, tadi Bapak sama Pak Bon ngobrol-ngobrol. Terus Pak Bon cerita kalau dia baru Membantu teman Non itu……”
“Membantu apa , Pak?!”
“Bukannya tadi teman Non itu di hukum sama Pak Bowo?!”
“Astaghfirullahalazim…..!!! Pasti gara-gara telat masuk ke kelas….”
Dari ujung koridor, terlihat dua sahabatnya berjalan beriringan. Airmukanya jelas terlihat sangat lelah sekali. Apalagi Chasan, yang tidak biasa mengerjakan pekerjaan seperti itu, pastilah merasa sangat-sangat lelah. Walaupun sudah dibantu oleh Pak Bon.
“Kalian diapain sama Pak Bowo??” Tanya Azi segera.
“Habis kerja rodi!!” Kata Chasan.
“Kalau begitu kita pulang saja!! Masalah tadi, lain kali…..tapi nanti kita tidak bisa bareng, soalnya aku mau ke tempat Bu Endar….!!”
“Oke…Nanti aku bilang saja dulu sama Ibu ku, biar pekerjaan itu tidak dikasih ke orang lain….” Kata Izam.
“Makasih, ya!! Kata Azi.
Uuh, kenapa sih Izam ini, dari dulu yang diperhatikan cuma Azi terus. Kalau telepon yang dibicarakan Azi, semua Azi!!! Kata Chasan dalam hati. Karena sejak dulu, hanya Azi yang menjadi pusat perhatian Izam. Chasan merasa, Ia hanya sebagai pelengkap saja.Ibarat sayur,Ia hanyalah sebagai kuahnya saja.
“Kamu kenapa sih, Chas?? Dari tadi ngelamun terus…..?! Kesambet lho!!” Kata Izam menggoda.
“Lagi ada masalah apa?!” Tanya Azi.
“tidak, biasa saja kok!! Memang kenapa?!” Kata Chasan yang mencoba menutupi maksud hati.
“Kalau ada masalah cerita saja…..” Kata Azi. Chasan hanya diam, dipandangnya sosok Izam.
“Kenapa lihat-lihat aku?! Tak usah jadi sok sinetron begitu dong!! Biasa saja…..” Kata Izam dengan gaya khasnya saat bercanda.
“Dari pada kamu, sok ganteng…..!!” Kata Chasan yang tak mau kalah.
“Yeee……..Kamu tidak sadar apa, aku kan memang ganteng…..!!” Kata Izam yang sambil mengusap-usap rambutnya.
“Sudah….sudah….kok jadi ribut begini…..”
“Ya, maaf…..!!” Kata Izam dan Chasan bersamaan.
“Bay the way….busnya kok belum datang-datang!!” Kata Azi yang melihat ke ujung jalan yang penuh dengan mobil – mobil yang lalu lalang.
“Sabar saja!! Entar juga nongol….” Kata Chasan.
Lama juga menunggu bus yang akan mengantar mereka pulang. Walau lama, tapi tak terasa. Karena Izam dan Chasan selalu membuat lelakon lucu. Lima belas menit, dua puluh menit, hingga tiga puluh menit sudah berlalu. Bus yang ditunggu akhirnya muncul juga dari ujung jalan. Sudah lama ditunggu, tapi ternyata tak luput dari fans-fansnya. Sampai-sampai, di depan pintu bus pun dihuni para penumpang. Walau begitu Chasan dan Izam tetap memaksa untuk masuk ke dalam bus. Ya, dari pada pulang telat. Pikir mereka. Sedang Azi, masih menunggu bus yang berikutnya. Di dalam sangat penuh sesak. Hanya sepuluh menit saja mereka berdua di dalam bus.
“Huh….akhirnya…..” Kata Chasan.
“Duh…Waduh…sepuluh menit mencium bau parfum, bau ketek bau keringat….aduh…..lebih-lebih bau tujuh comberan….!! Apes….apes….!!” Kata Izam sambil menghibas-hidaskan tangannya di depan mukanya.
Dengan laku yang terlihat begitu lelah. Kalau setiap bagian tubuh mereka dapat mengeluh, pastinya akan mengeluh sepanjang jalan. Tapi apa boleh buat , mau tak mau memang harus begitu. Jalanan sepanjang trotoar masih terlihat beberapa tenda-tenda pedagang kakilima. Masih banyak kendaraan yang terus saja lalu lalang tanpa henti.
“Assalamu’alaikum……” Kata Azi yang ternyata telah sampai di rumahnya,dan memberi salam pada Ibunya.
“Wa’alaikumsalam……..” Jawab Ibunya dari dalam dapur.” Sudah pulang to, Nduk!! Kok sampai sore begini…..” Tanya Ibunya.
“Ya, maaf, Bu!! Tadi menunggu Chasan sama Izam...tadi mereka dapat hukuman dari Pak Bowo, terus pulangnya tidak bisa bareng, soalnya Azi tadi ke tempatnya Bu Endar dulu…..!!”
“Bukannya belum gajian to….Kok sudah diambil…. Terus itu, Izam sama Chasan kok bisa dihukum?!” Tanya Ibunya.
“Azi sudah tidak kerja lagi, Bu!? Hanya saja, tadi Izam nawarin Azi pekerjaan….jadi guru ngaji….Kalau masalah mereka berdua dihukum, mungkin mereka berdua telat masuk ke kelas…..apa lagi saat pelajarannya Pak Bowo!!” Kata Azi.
“O, begitu….tapi hukumannya tidak berat to..!?” Tanya Ibunya ingin tahu.
“Ya, kalau buat Azi, sih, biasa saja….menyapu sama mengepel… Tapi, kalau buat Chasan sama Izam, mereka kan jarang mengerjakan pekerjaan itu…..”
“Benar juga, ya….Kasihan!! Ya, sudah ….kamu ganti pakaian dulu sana!!”
Azi pun meninggalkan Ibunya di dapur. Menuju ke dalam kamarnya. Memasuki kamarnya, kini menemui suasana yang berbeda. Buku-buku yang tersusun rapi di meja belajar. Tempat tidur yang terlihat rapi. Di sudut ruangan berjajar piala dan beberapa penghargaan. Di dinding, di atas tempat tidurnya, terpampang satu tulisan kaligrafi yang begitu indah, hadiah perkawinan Ayah dan Ibunya dulu. Dengan nuansa warna biru langit, semakin membuat nyaman si pemiliknya.Azi pun bergegas untuk ganti pakaian. Setelah itu, Ia berwudlu dan sholat Ashar.


Tiga



Malam ini dingin menusuk ke dalam tulang. Walau begitu langit bersih tanpa awan hitam yang menghalangi keindahan langit malam. Bulan bersinar terang. Menampakkan kegembiraan pada malam yang sunyi. Bintang-bintang kecil pun ikut meramaikan keindahan malam. Suara musik pop rock yang mengalun dari tape di kamar Izam. Tak lama pintu kamarnya diketuk.
“Zam….Izam….!!” Panggil Ibunya.
“Iya!!” Jawab Izam dari dalam kamarnya, sambil mengecilkan volume tapenya.
“Kamu sudah makan?!” Tanya Ibunya.
“Ayah mana?!” Tanya Izam sambil menampakkan wajahnya di sela-sela pintu kamarnya.
“Ayah belum pulang….Mungkin nanti larut malam…!! Tadi ada banyak orderan, jadi ya agak sibuk dan repot…!!” Kata Ibunya.
“Hm…heh…ya sudah, tunggu sebentar ya, Bu!!”
“Ya sudah…Ibu tunggu di meja makan, ya….” Kata Ibunya. Yang kemudian pergi meninggalkan Izam. Tak lama, Izam keluar dari kamarnya. Dilihatnya hidangan pada malam itu.
Dengan lahap Izam menyantap hidangan yang telah di siapkan oleh Ibunya itu Bahkan, tanpa malu-malu, ia nambah sampai dua kali. Mungkin karena saking enaknya. Ibunya hanya dapat geleng-geleng kepala. Sambil tersenyum melihat tingkah laku anaknya. Dan tanpa malu pada Ibunya, Izam terus memenuhi mulutnya dengan makanan.
“Ah…Enak…enak…..bwaaaangett….!! Kenyang-kenyang…..!!” Kata Izam yang memuji kelezatan hidangan pada malam itu .Tangannya mengelus-elus perutnya yang membuncit karena saking kenyangnya.”Alhamdulillah!!”
“Ya ampun Izam….itu hanya sayuran…..sama gorengan tempe ….!!” Kata Ibunya dengan senyum.
“Ya….Izam tau kok…!! Apapun itu, kalau makannya sama-sama keluarga pasti terasa enak….” Kata Izam sambil mengambil buah pisang di meja. Ibunya diam. Memandang penuh kasih pada anak di hadapannya itu. Agaknya, Ia memikirkan juga kata-kata putra semata wayangnya itu. Selama ini, Ia dan suaminya hanya sibuk dengan bisnis tekstil yang ditekuninya. Melayani pesanan, pergi pagi dan pulang pada larut malam, ketika semua orang telah terlelap tidur. Sampai-sampai, tidak menyadari, bahwa anaknya membutuhkan perhatian mereka. Hingga putranya memberi teguran halus kepadanya. Walau begitu, ia tetap bersyukur dengan keadaan putranya sekarang. Karena dalam kesibukan orang tuanya, Izam tetap menjadi anak yang patuh dan rajin beribadah. Tak ikut-ikutan dengan pergaulan bebas anak jaman sekarang. Misalnya seperti mengkonsumsi narkoba, miras , atau ikut teman-temannya tawuran antar remaja sekolah.
“Maafkan Ibu sama Ayah, ya!!” Kata Ibunya dengan suara parau.
“Ibu tidak salah….Ayah juga tidak salah!! Izam sayang sama Ayah sama Ibu….” Kata Izam. Ibunya pun kini semakin terharu. Dipeluknya Izam dengan penuh kasih sayang.
“Ibu juga sayang sama Izam…..”
“Em…!!” Ibunya pun melepaskan pelukannya itu. “Bu, teman Ibu yang kemarin bilang mau mencari guru les ngaji itu sudah dapat apa belum…?! Si Azi mau kerja.!!!” Tanya Izam.
“Azi!?”
“Iya,Bu!! Dia butuh pekerjaan itu, soalnya biar bisa bantuin Ibunya membiayai kebutuhan hidupnya…..Apa lagi, Izam denger-denger keluarga Azi menumpuk banyak utang…..” Kata Izam.
“Em, begitu ceritanya….kasihan sekali….!! Ya, nanti. Ibu ngomong-ngomong dulu sama Jeng Ike….”
“Makasih, ya ,Bu…!! Izam mau ke kamar lagi…..udah kenyang….he…he…he…!?”
“Oh, iya!! Kamarnya diberesin, ya?! Kaya kapal pecah gitu….!!”
“Oke, Mum!?! Biasa kan, anak cowok!! he…he…he…” Kata Izam dari depan pintu kamarnya. Kamar memang super berantakan. Banyak majalah sport yang bertebaran dimana-mana. Kaus kaki yang belum dicuci, yang hanya tinggal satu saja. Entah dimana gerangan yang sebelahnya. Jaket dan baju yang asyik bergantung-gantung di balik pintu kamarnya. Keping-kepingan kaset VCD lagu-lagu pop rock juga tak di susun pada tempatnya. Dengan malas, Izam mengambilnya satu per satu .Merapikannya. Menatanya pada tempatnya.
“Uh!!Akhirnya….”Katanya sambil merebahkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk. Dipandangnya langit-langit pada kamarnya yang dibuat menyerupai langit malam sungguhan.dengan bintik-bintik yang memancarkan cahaya, sebagai bintang malam. Dan bulan sabit yang selalu terlihat mempesona. Pikirnya melayang jauh dari raganya. Lamunannya begitu indah hingga ia tersenyum dengan sendirinya. Lama-kelamaan matanya terpejam. Pada akhirnya ditinggalkannya dunianya menuju ke dalam pulau mimpi.
Lain Izam, lain lagi dengan Chasan. Walau sudah larut malam, tangannya masih sibuk saja. Bukan memutar biji tasbih, tapi memainkan huruf-huruf pada keyboard. Internetan dan chating adalah kebiasaannya tiap malam. Rasanya belum bisa memejamkan mata jika Ia belum online barang sejenak. Pintu kamarnya terbuka. Berdiri di depan pintu sosok Ayahnya.
“Ayah!! Kalau masuk ketuk pintu dulu!!”Kata Chasan.
“Aduh…aduh…anak Ayah!! Kok belum tidur….!!”Tanya Ayahnya.
“Eh,iya…!!Lagi online….tapi tidak ada yang balas e-mail ku….nyebelin…!!”
“Makin manja saja kamu ini…sudah tutup laptopnya….sekarang tidur….besok kamu sekolah kan….!?”
“Iya…. tapi….”
“Ayo tidur…!!”
“Iya, Yah….!!Selamat malam ….!!”Kata Chasan singkat. Ayahnya pun mengerti, apa yang akan terjadi jikalau apa yang Chasan suka dan senangi tapi di larang.
Berpuluh-puluh meter dari rumah Chasan, adalah rumah Azi. Di malam ini memang sunyi dan berkabut. Entah dari mana datangnya kabut itu. Kalau Chasan dan Izam sudah terlelap dalam tidur dan terbuai dalam pulau mimpi yang menyajikan mimpi indah, maka Azi tetap terjaga dari tidurnya.
Di tengah dinginnya malam, Ia berwudlu. Dan di dalam sunyinya malam dan di antara lelap tidur orang-orang disekitarnya, ia melaksanakan sholat. Begitu khusuknya Ia melakukan semua itu. Seakan ia benar-benar berhadapan langsung dengan Tuhannya. Berdialog dengan Sang Pencipta. Setelah selesai sholat, diambilnya rangkaian bijih tasbih yang biasa. Ia kenakan pada saat berdzikir. Entah berapa ratus sholawat serta salam dan pujian bagi Allah telah terucap. Kini, tangannya menengadah.Di tengah remang-remangnya lampu di sudut ruang, ia berucap do’a.
Tak disadari dari mulut pintu kamar, ibunya tengah berdiri. Mendengar do’a-do’a anak gadisnya itu. Semoga Allah mengabulkan keinginanmu, Nak. Katanya dalam hati. Terharu dan bangga, itu pasti. Dalam kehidupan seperti sekarang ini, Azi dan Ipang, adiknya, telah memberi semangat untuk Ibunya.Walau kadang Ibunya sedih, tidak dapat memenuhi permintaan anak-anaknya. Akan tetapi, Azi dan Ipang sangat mengerti dan mengurungkan niatnya, jika dirasa keinginannya tak mampu dipenuhi Ibunya.
“Ibu?! Ada apa?! Kenapa tidak masuk saja!!?” Tanya Azi sambil melepas mukena dan memakai kembali kerudungnya.
“Takutnya Ibu mengganggu kamu, makanya Ibu tunggu di depan pintu!!”kata Ibunya dengan suara parau.
“Ibu nangis…?!”Kata Azi sambil meneliti wajah Ibunya.
“Ah, tidak, Ibu tidak nangis!!”
“Lalu kenapa mata Ibu memerah!! Suara ibu juga parau begitu….!!”
“E…. tadi kelilipan!!”Kata ibunya berbohong.
“Bu….!!”
“Ibu terharu sekaligus bangga punya anak-anak yang rajin dan pandai seperti kalian…!!”Kata Ibunya sambil memandang Ipang, adik Azi yang terlelap tidur.
“Bu sudahlah… Aku adalah anak Ibu, sudah kewajibanku sebagai anak untuk membantu orang tua…” Kata Azi. Ibunya memandang ke arah foto seorang laki-laki tampan yang terpajang di dinding.Tatapannya penuh kasih.
“Lihatlah,,, Pak “Katanya.”Anakmu, Azi dan Ipang…Mereka sudah tumbuh menjadi anak yang patuh, cantik dan tampan, sholeh dan sholeha…” Kata Ibunya kepada foto itu.”Coba kamu masih hidup Pak!! Kamu akan…”
“Bu...sudahlah…sudah takdir Allah, Ibu tidak boleh bicara seperti itu…” Kata Azi memotong kalimat Ibunya.”Walaupun Bapak sudah meninggal, Bapak akan selalu di sini…”Kata Azi sambil menunjuk ke dalam dadanya. Sejak lahir, Azi memang sudah berstatus sebagai seorang anak yatim.
“Hm...!!”Ibunya menghela nafas, menyadarkan Azi dari lamunannya. Jauh dari dalam palung hati, tersimpan rapat-rapat keinginan untuk berkumpul bersama Bapaknya, ya, seperti teman-temannya. Merasakan indahnya canda dan tawa. Akan tetapi,semua itu telah diurungkannya sejak dulu.”Ya,sudah….sekarang sudah larut malam, sekarang kamu tidur saja…besok kan kamu sekolah!! Nanti bangun kesiangan…!1” Kata Ibunya. Tanpa berkata-kata lagi, Azi pun berpaling pada tempat tidurnya.
Andai saja aku lebih beruntung dari hidupku sekarang!! Katanya dalam hati. Pikirannya melayang, membayangkan jikalau ia mempunyai semuanya. Ah, tapi aku harus lebih bersyukur kepada Allah. Karena di luar sana masih banyak orang-orang yang hidupnya kurang beruntung seperti diriku. Katanya lagi. Hingga adzan subuh berkumandang, mata Azi sangat sulit untuk terpejam.Raganya masih di tempat tidur, tapi pikir dan khayalannya melayang ke tempat lain yang tiada orang tahu, bahkan dirinya pun tak tahu.

Empat



Pagi ini terlihat suram. Hujan turun dengan santainya, tapi tidak kunjung henti. Sinar matahari tidak seperti hari kemarin. Mungkin saja, sang surya kelelahan dan sedang istirahat sejenak. Hingga pukul 06:30 hujan belum juga reda. Kekhawatiran mulai merebah ke dalam hatinya. Tadi malam sudah susah tidur…pagi-pagi kok, ya hujan!! MasyaAllah…!! Kata Azi dalam hati. Tiba-tiba saja ada mobil sedan mewah berhenti di depan rumahnya. Jendela mobil terbuka dari dalam. Terlihat wajah Izam yang sumringah.
“Azi… ayo!!” Teriaknya dari dalam mobil.
“Ah…eh…iya!! Bu… Azi berangkat dulu…Assalamu’alaikum…!!”
“Wa’alaikumsalam…hati-hati ya, Nak!!” Kata Ibunya dari depan pintu yang tadinya keluar dengan tergopoh-gopoh. Memandang Anaknya yang sudah berlarian menerobos celah rintik hujan.
“Dari pada kamu menunggu hujannya reda, malah tidak reda-reda, yang ada telat…” Kata Izam ketika Azi duduk di sampingnya.
“Pagi, Om!!” apa Azi lembut pada Ayah Izam dengan penuh suka cita.
“Pagi juga, Azi.” Sahut Ayah Izam dengan penuh suka cita pula.” Tahu tidak, Izam tadi semangat 45 ingin jemput kamu…!!” Kata Ayah Izam dengan tangannya yang masih memegang koran harian yang jelas terlihat berjudul BISNIS.
“Ayah, jangan diceritakan…!!” Kata Izam dengan agak sewot.
“Kenapa?! Azinya saja biasa …!!” Kata Ayahnya jail.
“Malu Yah…!!” Kata Izam sambil sedikit melirik Azi yang tengah tersenyum manis.
“Em…ehem..” Terdengar Ayahnya berdehem.
“Eh….e….maaf…!!” Kata Azi yang merasa tidak enak.
“Tidak apa-apa!! Lihat tuh, Izamnya kesenengan….” Kata Ayahnya dengan jail.
“Apaan?! Biasa saja…” Kata Izam yang menyanggah kata-kata Ayahnya.
“Em, Om, Tante tidak ikut ke toko..?!” Tanya Azi yang mulai bersuara lagi.
“Oh, tidak…biarlah di rumah…istirahat…” Kata Ayah Izam.
“O…begitu…” Kata Azi, tanda ia telah mengerti. Lalu hening sejenak. Azi memandang ke luar jendela yang menyajikan pemandangan kota yang macet, karena dari masing-masing ingin cepat sampai tempat tujuan.
“Em…Zi?! Kamu jadi mau kerja di tempat teman Ibuku?!” Tanya Izam memecah kesunyian.
“Azi mau kerja…?!” Tanya Ayah Izam dengan heran.
“Iya, Om…Bantu-bantu Ibu!!” Kata Azi.
“Tapi, seumuran kamu ini belum boleh bekerja…..!!” Kata Ayah Izam.
“Itu kan bagi orang yang mampu, Om….Lah, kalau saya…”
“Oh, kamu jangan bilang begitu….Om yakin, suatu hari nanti kamu akan menemui kesuksesan kamu…”
“Amin!! Makasih ya, Om…!! Oh, iya, kira-kira, aku membimbing anak usia berapa ya?!” Kata Azi.
“Bukan anak-anak Azi…..”
“Ha!? Terus?!”
“Kata Ibu, sudah SMU!! Sudah kelas tiga lagi….Kalau tidak salah, namanya Bayu!!”
“O begitu!! Aku mengajar dia dari awal, atau……?”
“Wah, kalau itu aku tidak tahu…Oh iya, tidak cuma dia …..tapi juga adiknya…Adiknya perempuan kok!! Baru kelas dua SMP. Namanya Mizan….” Kata Izam menjelaskan.
“Ya sudah!! Terima kasih ya…Kamu sudah mau bantu hidup aku!!” Kata Azi.
“Iya, sama-sama!! Eh, kok tidak terasa sudah sampai…Hujannya sudah berhenti pula….” Kata Izam sambil turun dari mobil.
Izam dan Azi berangkat bareng!! Kok bisa?! Itulah kata-kata yang didengar ketika Izam dan Azi lewat. Muka-muka iri terpampang di sepanjang jalan yang dilalui. Suara dan bisikan terdengar. Begitulah suasananya, jika cowok beken dan disenangi cewek-cewek, lagi jalan bareng sama cewek seperti Azi. Langsung saja mereka berpikir, Dia pacarnya?!
Dari sudut yang jauh, Chasan yang sedang asyik ngobrol dengan teman-temannya, melihat Izam dan Azi. Tak dirasa, hatinya terasa padat. Mukanya memerah. Kenapa sih pakai berangkat bareng?!! Tanyanya dalam hati.
“Kenapa Chas…??” Tanya seorang temannya.
“Ha..e.. tidaak!! Tidak ada apa-apa kok!!” Kata Chasan.
“O..kamu lihat Izam sama Azi, terus kamu cemburu….”
“Tidak!!!” Kata Chasan sigap.
“Masak sih?! Kamu tidak sadar?! Selama ini Izam lebih perhatian dengan Azi dari pada ke kamu. Terus Izam itu banyak yang suka, kenapa harus sama Azi yang tidak ada apa-apanya…” Kata temannya yang rupanya mencoba menghasut Chasan.
“Izam sama Azi itu sahabatku…!!
“Iya tahu…terus.. .“
“Ah…sudahlah…” Kata Chasan yang mulai merasa panas dalam hati, lalu sambil berlalu meninggalkan temannya.
Setelah sampi di kelas dan duduk, Chasan mencoba untuk menenangkan hati dan pikirannya. Tapi yang terjadi adalah banyak kata-kata yang bermunculan dalam pikirannya. Ingin sekali ia menggapai kata-kata itu. Tapi tak dapat ia lakukan. Sampai-sampai mukanya ditutup dengan kedua tangan.
“DOOR!!!” Ternyata Izam datang dan mengagetinya.
“Izam…Jahat sekali, sih….!! Kaget, tau….” Kata Chasan sambil mengelus-elus dadanya.
“Maaf…maaf….!! Habisnya, pagi-pagi muka sudah kusut begitu…. listrik rumah mati ya Non….!?”
“Apa hubungannya??”
“Kalau listrik rumah mati, berarti muka kamu tadi pagi tidak disetrika!!”
“Uuh…enak saja…!! Tadi kok bareng sama Azi?! Ketemu di jalan?!” Tanya Chasan.
“Tidak….!! Tadi aku jemput dia, pas bareng sama Ayah juga…!!”
Tuh kan, selalu Azi dibela-belain dijemput. Sedang aku? Diajak pun tidak! Padahal rumahnya dekat. Kata Chasan dalam hati.
Di sekolah rasanya lama sekali. Apa lagi mendengar celoteh guru-guru tentang pelajaran yang membuat Chasan semakin malas saja. Rasanya ingin sekali cepat sampai rumah, tapi jam sekolah seakan melambat, sehingga serasa waktu semakin lama. Ditambah dengan rasa perutnya yang terasa lapar. Penghuni perut sudah demo dari tadi, tapi mulut Chasan tak berselera untuk makan.
“Chas, makan, yuk….?!”Kata Izam.
“Enggak, ah…”Kata Chasan malas.
“Kamu kenapa sih?! Lagi diet ya?! Apa tidak dapat uang jajan setahun terus harus hemat?!”
“Terserahlah mau bilang apa!! Pokoknya aku lagi malas…..”
Izam pun diam ia tak mampu berkata-kata. Matanya memperhatikan wajah Chasan yang oriental. Dengan sangat teliti, diperhatikannya raut wajah sahabatnya itu sampai-sampai Izam tak sadar, kalau Chasan sedang melotot ke arahnya.
“Heh!! kenapa sih?! Dari tadi melihat aku terus?! Kata Chasan dengan muka cemberut saking kesalnya pada Izam.
“Ha?! Eh…enggak!?!”
“Terus kenapa melihat aku sampai seperti itu?!”
“Tidak….tidak ada apa-apa!!”
“Kamu MiJor ya?!” Kata Chasan sambil berdiri dengan suara keras hingga menggema ke seluruh sudut ruang kelas. Teman-temannya kontan menoleh, kaget mendengar kalimat yang diucapkan Chasan. Chasan malu karena melihat raut wajah teman-temannya yang entah berekspresi apa. Heran, bingung, curiga, sinis, pokoknya semuanya ada. (kayak dagang aja). Pada akhirnya Chasanpun kembali duduk dengan lemas.
“Em…”
“DIAM!!!” Potong Chasan dengan kasar.
“Ya udah!! Kamu terusin aja dulu marahnya. Aku mau ke kelas Azi!!” Kata Izam yang lama-lama merasa kesal juga dengan tingkah laku Chasan yang marah-marah tidak jelas. Izam pun berlalu, berjalan menuju kelas Azi. Rencananya ingin mengajak makan Azi karena perutnya sudah keroncongan.
“Tuh kan!! Emang cuma Azi, tidak pernah sedikit pun perhatian sama aku. Kenapa sih tega banget sama aku?! Apa karena aku manja?!” Kata Chasan dalam hati.
Berjalan menuju kelas Azi dengan muka kusut dan cemberut, ternyata tidak menyenangkan. Jadi sebuah pemandangan berjalan yang gratis buat teman-temannya. Sampai di kelas Azi, Izam langsung mengambil posisi duduk di kursi sebelah Azi. Mukanya yang cemberut, mengundang rasa ingin tahu Azi.
“Datang-datang kok cemberut begitu!? Kenapa Zam?!” Tanya Azi yang mengerutkan keningnya karena heran. Tangannya berhenti menulis dan meletakkan pulpen di atas meja.
“Uuh…tidak tahu,membuat dosa apa aku hari ini sampai Chasan marah-marah terus sama aku !! kata Izam frustasi.
“Kamu merasa buat kesalahan atau tidak?!” Tanya Azi lagi.
“Salah apaan Azi?! Orang ngobrol saja baru tadi…!!
“Kok bisa?! Kan satu kelas!!”
“Kamu mau tau, sepanjang jam pelajaran dan celotehan guru-guru itu dicuekin sama Chasan…”
“Kenapa ya?!”
“Ya tak tau!!!” Kata Izam cuek.
“Apa dia sedang ada masalah ya?! Kamu tidak menanyakannya ke Chasan!!”
“Tidak!! Lagi patah hati kali!!” Kata Izam, lagi-lagi dengan cuek dan gaya khas ala Izam. Tanpa pamit Azi meninggalkan Iza. Ia mendatangi Chasan. Di dalam Chasan duduk menyendiri, di bangku pojok, sedang teman sekelasnya berkelompok, ngerumpi membicarakan masalah orang lain. Membicarakan cowok baru mereka atau curhat tentang kehidupan cinta mereka. (Ciee…sok tau bangeet). Dengan pelan Azi mendekati Chasan di pojokan.
“Chas…” Panggil Azi sambil duduk di sampingnya. Dan Izam berdiri di samping meja.
“Apa?! Kata Chasan dengan sedikit judes.
“Kamu kenapa Chas?! Tanya Azi halus.
“Tidak apa-apa!! Masih peduli sama aku?!” Kata Chasan masih dengan judesnya. Dan Azi pun merasa tidak enak. Apa maksud Chasan?” Pikirnya.
“Chasan…kamu ada masalah?! Cerita, Chas?!” Kata Azi lagi. Chasan diam seribu bahasa. Lama mereka diam, Azi masih menunggu. “Kita kenal sudah lama…bukan hari ini kita kenal. Jadi apa yang kamu ragukan?!” Kata Azi lagi. Chasan masih dengan wajah cemberut. Tangannya sibuk menyobeki kertas hingga kecil-kecil sebagai pelampiasan kesal. Dipandangnya Izam.Berharap dalam hati, ia pergi dari hadapannya. Izampun mengerti dari tatapan mata Chasan. Tatapan yang begitu tajam. Iapun pergi meninggalkan Azi dan Chasan.
“Ada hubungan apa kamu sama Izam?!” Tanya Chasan tajam. Dan Azi tertawa kecil. Menghela nafas. Dilihatnya wajah Chasan yang merasa bingung.
“Hm…kamu ini lucu !!! Kita sahabat sudah lama Chas. Aku, kamu dan Izam adalah sahabat, itu janji kita kan?!”
“Emang!! Tapi akhir-akhir ini, Izam selalu lebih perhatian, lebih dekat, lebih apalah namanya itu. Semuanya kamu, Zi!!”
“Kenapa kamu jadi seperti ini sih?! Semuanya tuh sama aja!!” kata Azi pelan dan lirih. Hatinya berharap Chasan mau mengerti.
“Lalu kenapa, kalian selalu tak menganggap aku ada. Aku selalu diasingkan oleh kalian…”
“CHASAN!!!” kata Azi keras. Chasan diam, air mata mengalir deras. Pipinya basah, matanya merah hendak bengkak. “Kamu tidak boleh ngomong seperti itu!!” kata Azi lagi. Kali ini suaranya pelan.
“Semua-semuanya kamu…hiks…hiks…hiks…” kata Chasan dalam isakan tangisnya.
“Kata siapa?! Izam juga perhatian sama kamu… buktinya, kemarin pas kamu sakit…dan orang tua kamu lagi di luar kota, yang menemani kamu siang malam kan Izam…menyuapi kamu waktu makan malam, menghibur kamu, mengantar kamu ke dokter, semuanya…sampai kamu sembuh total dan orang tua kamu pulang….”
“Iya, tapi kan…”
“Chas, kalau kamu sedang marah sama orang lain, kamu jangan cuma mengingat orang tersebut. Tapi kamu juga harus ingat kebaikan orang itu juga…”
“Hiks…hiks…hiks…napa mesti aku, Zi?!” kata Chasan yang semakin larut dalam dalam tangisnya.
“Iya, aku ngerti apa yang kamu rasakan…!!” Kata Azi lembut.
“Chasan?!” Kata Izam yang yang ternyata sudah berdiri di belakang Azi.
“Eh…hiks…hiks…”
“Maafin aku kalau selama ini…”
“Tidak apa-apa. Aku yang salah. Aku yang tidak bisa mengerti keadaan” kata Chasan sambil menghapus air mata yang sedari tadi membasahi pipinya.” Aku senang punya sahabat yang sangat perhatian, seperti kalian…” kata Chasan lagi. Kali ini di wajahnya terpampang air muka bahagia dan senyum manja.


Lima


Assalamualaikum…
Izam, teman ibu mau
Ketemu sama Azi
Nanti sore plg sekolah
Ditunggu di rumahnya.

Pesan singkat itu dari ibu izam.Memberi tahu , kalau teman ibunya ingin bertemu dengan Azi.
“Zi, nanti pulang sekolah kita langsung ke rumah Tante Ike …Tante Ike mau bertemu kamu…”
“Yang benar Zi?”
“Ya, tadi ibuku sms!!” kata Izam sambil menunjukkan sms dari ibunya tadi.

“KRINGGG…!!!”
Akhirnya bunyi bel pulang sekolah berbunyi. Azi mengemasi buku-bukunya. Dengan hati bahagia, ia melangkahkan kaki dengan mantab. Ternyata tak perlu saling menunggu. Azi berpapasan dengan Chasan dan Izam, di belokan menuju halaman depan sekolah.

“Duhh, seneng bener, Bu…..!!”kata Izam sambil menyenggol pundak Chasan.
“Izam, Chasan, aku tidak hanya seneng…tapi tambah semangat…” Sepulang sekolah Izam dan Chasan mengantarkan Azi ke rumah Tante Ike. Dalam hati, Azi berharap, Ia akan bisa bekerja lagi seperti biasa. Mereka naik bus kota. Berdesak-desakan. Mencium bau parfum bercampur keringat. Pada akhirnya, penderitaan di dalam bus kota berakhir juga.Mereka turun tepat didepan rumah Tante Ike.
“Ting…tong…Assalamu’alaikum…!!” Bunyi bel otomatis yang ditekan Izam. Azi terpaku melihat rumah di hadapannya. Wah, bakal betah aku ngajar ngaji di sini!! Pikir Azi. Pintu gerbang terbuka. sangat sempit. Dari dalam terlihat raut wajah seseorang.
“Mbak mau bertemu sama Tante Ike!!” kata Izam. Padahal orang itu belum bertanya.
“Sudah buat janji?” kata orang itu, seakan tak percaya dengan Izam.
“Oh, ya jelas sudah…” Kata Izam yang tak merasa canggung pada orang itu.
“Silahkan masuk ..” kata wanita setengah baya itu. Pintu gerbang yang mewah itu terbuka. Izam, Azi dan Chasan mengikuti derap langkah wanita itu.Yang pada akhirnya membawa mereka ke dalam rumah yang sungguh megah.
“Maaf Bu…ada tamu” kata wanita setengah baya itu, yang ternyata adalah pembantu di rumah itu. Dan seorang wanita lagi , yang terlihat masih muda. Ia menoleh, majalah mode diletakkan di atas meja.
“Oh, Izam!! Lama sekali Tante menuggu kamu Iz” yang ternyata, Ia adalah tante Ike.
“Iya Tan!! Macet!! Kata Izam yang serasa telah kenal dekat dengan Tante Ike
“Ayo… sini-sini…duduk dulu !! Pasti capek banget ya!!” Kata Tante Ike yang ternyata sangat ramah. Mereka pun duduk di sofa panjang, di samping Tante Ike duduk.
“Em…Tante, ini yang namanya Azi!!” kata Izam memperkenalkan Azi pada tante Ike. Mata Tante Ike langsung beralih pada Azi.
“Oh, ya!!, sudah pernah mengajar ngaji Zi” Tanya Tante Ike pada Azi tetap dengan senyum.
“Sudah, Bu!! Tapi di mushola dekat rumah saya!!” jawab Azi
“Jangan panggil saya Ibu. Panggil saja Tante… oh iya, Zam. Kamu tidak mau mengenalkan temanmu yang satunya itu?!”
“Iya Tan!! Ini namanya Chasan…”
“Ya…ya…kamu yakin bisa?!”
“Insyaallah, Bu!! Saya akan berusaha.”
“Sudah saya bilang jangan panggil saya Ibu!! Panggil saja tante…”
“Iya Bu…eh..Tante!!!”
Tiba-tiba seorang laki-laki tampan seumuran dengan mereka muncul dari pintu depan. Masih dengan seragam SMU. Rambutnya berantakan seperti tak disisir. Tangannya menenteng helm. Berjalan dengan santai, seperti tak menemui sosok manusia di ruangan itu. Tak ada ucapan salam layaknya Azi, Izam maupun Chasan yang selalu mengucapkan salam, bahkan pada ibunya pun tidak. Apa dia, ya?! Tanya Azi dalam hati. Tampang heran muncul di muka ketiganya.
“Bayu!!” Panggil tante Ike. Ternyata benar. Dan pertanyaan Azi terjawab sudah. Lelaki itu bernama Bayu. Yang dengan jelas akan diajarinya mengajar mengaji.
“…” Tanpa jawaban dari Bayu. Berehenti menaiki anak tangga.
“Kamu punya sopan santun apa gak, hah!! Uadah atau ada…”
“Tamunya Mama kan?! Potong Bayu. “Apa Mama ngajarin Bayu sopan santun…” katanya dengan suara berat. Ekspresi wajahnya menunjukkan ketidak senangannya. Iapun pergi meninggalkan ruangan tanpa berkata lagi.
“Maaf ya!!”
“Tidak apa-apa Tan…”
“Itu tadi yang akan kamu ajari mengaji…tante mohon ajari dia…!!”
“Insyaallah Tan!! Kata Azi dengan ramah.
“Em…Tante…sudah sore, kami mohon pamit…!!” kata Izam
“Ya, kterima kasih sudah mau datang. Em..mau diantar sopir saya atau mau naik bus?!”
“Kami mau…”
“Diantar saja ya?! Biar cepet sampai rumah…” kata tante Ike” lalu ia menyuruh seorang bapak-bapak untuk mengantar Azi, Izam, dan Chasan. Di depan mobil hitam kelam mulus telah siap mengantar.

Enam


Adzan telah berkumandang. Udara sore itu membawa dan mengantarkan suara adzan yang begitu syahdu, ke telinga para penduduk tempat tinggal Azi. Membuat mereka menghentikan segala aktifitas mereka. Sedang Azi masih menyusuri jalan kecil. Jalan yang menuju ke rumahnya.
“Azi!!” Panggil temannya itu.
“Assalamualaikum..” kata Azi malah memberi salam.
“Wa’alaikumsalam…!!”
“Mau ke mana Gie?! Sudah Maghrib kok malah pergi?” Tanya Azi.
“Lah kamu sendiri… kok baru pulang…?!!”
“Ogie…kebiasaan kalau ditanya balik Tanya.”
“He…he…he…”
“Memang mau kemana Zi, tidak ke mushola….” Tanya Azi lagi.
“Tidak!! Mushola itu tempatnya orang-orang yang sudah dekat ajal…” kata Ogie dengan gayanya yang sok keren…
“Astaghfirullah…terus kamu ini…”Tanya Azi lagi’
“Kalau yang muda, seperti kita-kita ini, Zi. Titip salam aja buat Allah…terus pesan tempat di surga…”sahut temanAzi yang satunya.
“Waduh …parah …taubat!! kebanyakan dosa lho!Lagipula, kata Pak Ustadz Anwar, kapan kita menemui ajal itu, tiada yang tau…”
“Kalau aku sama Danu… nunggu, di akherat dibangun mall, supermarket, caffe, kalau perlu stadion…biar tidak menyesal, kalau sudah mati…” kata Ogie.
“Ya sudah, terserah. Mungkin lain kali kalian coba buat mengaji dengan Ustadz Anwar…”
“Okey Boss!!” kata Ogie dan Danu bersamaan.
“Lebai…minggir kasih lewat, aku mau pulang….”
“Sana pulang…Ibumu tadi sudah kayak kebakaran jenggot menyarikan kamu…” kata Danu.
“Ha!! Kenapa tidak memberi tahu dari tadi, dan….”Assalamu’alaikum…” kata Azi pada akhirnya. Ia pun mempercepat langkahnya. Berharap cepat sampai rumah. Takut membuat Ibunya semakin cemas.
“Assallamu’alaikum…Bu…” kata Azi dari depan pintu.
“Wa’alaikumsalam…Ya Allah Ndhuk…Ibu sudah kalang kabut mencari kamu…Ibu sangat khawatir…” kata Ibunya.
“Maaf ya, Bu…Azi sudah buat Ibu khawatir….”
“Ya sudah…tapi kamu tidak apa-apa kan?!” Tanya Ibunya yang masih merasa cemas.
“Tidak, Bu!! Azi tidak apa-apa ….”
“Ya sudah, kamu ganti baju…mandi…terus makan…kamu belum makan kan?!”
“Iya, Bu…Azi ke dalam, ya!!”
Sementara Azi mandi dan ganti pakaian, Ibunya menyiapkan makan malam. Malam itu seperti biasa. Tapi bulan tidak tampak. Langit hanya bertabur bintang yang berkelip-kelip manja pada penghuni Bumi. Kadang terasa angin malam yang dingin berhembus. Sedang perjalanan menuju ke mushola hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja. Karena memang musholanya dekat dengan rumah Azi.


Tujuh



“Amin ya rabbal‘alamin…” Ucapnya pada akhir do’a” dilepasnya mukena yang ia kenakan. Lalu dipakainya lagi kerudungnya. Azi berharap dapat bertahan dengan pekerjaannya sekarang, apalagi sudah tahu watak yang akan diajarnya. Harus lebih ekstra.
“Memangnya kamu tadi kemana to Ndhuk?!” Tanya ibunya ketika melihat Azi keluar dari kamarnya.
“Tadi habis dari rumah tante Ike!!” kata Azi sambil duduk di samping ibunya.
“Tante Ike?! Siapa lagi itu Ndhuk? Mbok jangan macam-macam…!!”
“ Azi tahu kok Bu, tante Ike itu yang akan mempekerjakan Azi, Bu….Jadi Ibu tidak perlu khawatir….!!” kata Azi. “Ipang?! Makannya pelan-pelan…nanti keselek lho…” kata Azi mengingatkan pada adiknya.
“Tapi Kak…. Ipang lapeer…banget…!!” kata Ipang yang menghentikan makannya.
“Iya…tapi kalau pelan-pelan akhirnya kan, kenyang juga!!”
“Iya Kak, maaf!!” kata Ipang. Dengan rukun mereka makan bersama. Walaupun makannya tidak begitu istimewa, tapi dengan kebersamaan semua terasa istimewa. Walau tanpa sosok seorang ayah. Kadang Ipang selalu berkata, bahwa Ipang adalah sosok kepala rumah tangga di keluarga itu. Kadang membuat ibunya tersenyum dan bangga. Kadang pula menangis. Bukan karena sedih. Karena terharu.
“Bu…. nanti habis makan, Azi mau ketemu sama ustadz Anwar!!” kata Azi di sela-sela makannya.
“Lah, Ndhuk, mau apa ketemu sama ustadz Anwar...!!” Tanya ibunya
“Azi mau minta pengarahan sama ustadz Anwar…”
“Pengarahan apa to, Ndhuk?!” Tanya ibunya lagi.
“Itu lho, Bu…Azi kan besok kerjanya mengajar mengaji…jadikan harus benar..nah, kalau ustadz Anwar mungkin bisa kasih masukan atau tips-tips yang jitu…Bu!!”
“Aduuh, Ndhuk!! Apa itu, teepes-teepes itu…….ibu tidak ngerti…!!!” Kata Ibunya dengan gaya bahasa yang sedikit medhok.
“Bukan teepes, Ibu ku sayang….!! Tapi tips…maksudnya cara-cara jitu…”
“Ooo ya mbuh lah, ibu tetap tidak tahu…ya sudah, sekarang dihabiskan dulu makannya…” kata ibunya
Makan malampun berlanjut. Seusai makan, Azi mengambil air wudlu dan dibawanya mukena serta Al-Qur’an. Lalu berpamitan pada Ibunya. Malam itu seperti biasa. Tapi bulan tak tampak. Langit hanya bertabur bintang yang berkelip-kelip manja pada penghuni bumi. Kadang terasa angin malam yang dingin berhembus, sedang perjalanan menuju ke mushalla hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja. Karena mushalla lebih dekat dengan rumah Azi.

Delapan



Pagi sekolah. Sore mengajar ngaji. Itulah rutinitas Azi sekarang. Walau begitu ia tetap berusaha mempertahankan prestasinya di sekolah.
Sore itu, Azi datang ke rumah tante Ike. Bahkan sore-sore yang lalu pun ia ke rumah itu. Ternyata tante Ike dan kedua anaknya telah lama menunggu. Azi tersenyum. Yang pertama dilihatnya adalah sosok Bayu, yang begitu tampan dengan baju koko, peci, serta sarung, yang terlihat sangat pas dengan warna bajunya. Ya, walaupun mukanya tak pernah berubah. Tetap cemberut dengan hebatnya. Tatapan matanya sungguh sangat tajam. Dan bisa ditebak, hatinya sungguh tak rela, jika waktu luangnya diisi dengan kegiatan yang baginya tak ada manfaatnya. Apalagi Mizan…sedari kemarin, tiada raut muka yang menyatakan kesenangan. Tetap tak senang dengan kehadiran Azi. Baginya usaha Azi yang mengajarnya mengaji itu tak kan berbuah hasil.
“Assalamualaikum…!!” Kata Azi berucap salam
“Waalaikum salam…!! Akhirnya kamu datang juga,Zi…mereka sudah tidak kuat tuh, duduk seperti itu.” Kata tante Ike.
Bayu dan Mizan diam seribu bahasa. Bahkan tidak perduli dengan ucapan salam Azi. Hanya menatap tajam, serasa penuh marah
“Maaf ya, Tan…Azi telat…soalnya macet!!” kata Azi.
“Ya sudah, sekarang mulai saja ngajinya…Tante mau meneruskan kerjaan…” kata tante Ike sambil beranjak dari tempat duduknya. Setelah tante Ike meninggalkan ruangan, suasana ruangan menjadi tegang dan sunyi senyap sejenak. Azi tak tahu harus mulai dengan kata apa pada sore itu, ada sedikit rasa takut yang menyebar dalam hatinya.
“Maaf ya saya telat…”
“Bukannya tadi sudah bilang…” kata Bayu memotong kalimat Azi.
Iya juga, tadikan aku udah bilang, kata Azi dalam hati.Ngapain aku bilang lagi ke mereka.Kurang kerjaan aja.
“Em…maaf!! Bisa kita mulai?!”
“Nggak!!!” kata Mizan kasar.
“Kenapa?!” Tanya Azi.
“…” tak ada jawaban dari Bayu maupun Mizan.Pandangan yang penuh arti kebencian. Dan tak luput dengan bibirnya yang cemberut.
“Bukannya semuanya itu menyenangkan…lakukan saja dengan ikhlas. Dengan sepenuh hati…anggap saja kalian melakukan hal-hal yang paling kalian senangi….misalnya, seperti pelajaran sekolah…”kata Azi yang memberi motivasi kepada Bayu dan Mizan. Berharap mereka mau mengerti.
“Pelajaran sekolah!!? Gue tak tahu enaknya pelajaran sekolah…yang gue tau pelajaran sekolah itu semuanya ngebosenin banget...Bikin otak gue gak pernah tenang.”kata Mizan. Tatapan matanya semakin sinis saja. Sedang Bayu duduk dengan santai, layaknya seorang bos mafia.
“Hmm…Loe tau nggak?! Acara BaLi Gue rusak gara-gara acara Loe yang kampungan kayak gini…Yang norak…!!”
“BRUAKKK!!”
Al-Qur’an itu dilempar keatas meja. Azi langsung mengambilnya dan memeluk erat Al-Qur’an itu. Lalu pikiran Azi begitu galau. Apa separah itu keadaan mereka? Apa begitu besar halangan yang harus dilalui oleh Azi?
“Jangan pernah lakukan hal itu lagi ….” Kata Azi dengan berani.
“Kenapa?! Apa itu jimat kamu?!!” Kata Bayu dengan berani.
“Apa maksud kamu..?! Apa guna kamu sekolah hingga ke ujung langit….Tapi tak pernah tau apa guna Kitab ini.!!” Kata Azi yang mulai marah.
“Kamu berani sama Kakak ku?!” Kata Mizan yang ikut angkat bicara.
“Kenapa?!Aku tidak takut….Aku hanya takut sama Allah saja….Karena Dia yang menentukan hidup dan mati manusia…Seharusnya kamu tau semua itu….”Kata Azi yang semakin berani saja pada Bayu dan Mizan.
“Gak penting banget sih….Gitu doang…Surga bisa Gue beli….TAU!!” Kata Bayu dengan sangat angkuh. Merasa, apa pun dapat ia beli dengan uang.
“Jangan kamu mengangkuhkan diri….Semuanya hanya titipan…jika Allah murka terhadap sikap kalian…Allah akan menurunkan azab kepada mu…Apa kalian tidak takut dengan semua itu….” Kata Azi dengan pelan, tapi terdengar sangat tegas.
“…..”Bayu dan Mizan hanya terdiam saja.
“Kenapa diam….?!” Tanya Azi.
“Sudah lah…ngapain Gue dengerin celotehan burung beo yang berlagak seperti ustadzah…..Dalil tak jelas….” Kata Mizan.
“Tak jelas?! Kalian kali yang tak jelas…..Aku tahu, kalian takut kan dengan omongan ku tadi….?! Jujur saja…gengsi tidak akan membawa berkah….” Kata Azi yang kini merasa menang.
“Lebih baik kamu sekarang pulang saja sana….malas sekali setiap sore aku harus lihat muka kamu ….” Kata Bayu. Tante Ike yang ada di ruang kerjanya, keluar. Tertarik dengan suara ribut-ribut itu. Ditatapnya Bayu dan Mizan, lalu beralih kepada Azi. Tatapannya penuh akan tanya.
“Kenapa ribut?!” Tanya tante Ike.”Ada apa,Bayu….?! Mizan…!!”
“Em…beg….”
“Pokoknya aku tak mau lagi belajar ngaji….apa lagi sama dia….!!” Kata Mizan yang menujukkan sifat keras kepalanya.
“Mizan…. Mengertilah….Mama hanya ingin kamu menjadi anak yang sholeha….tak hanya kamu tapi juga kakakmu …Bayu…”
“Aku juga tak mau….”
“Apa-apaan kalian ini….!?”
“Bukan apa-apa, Ma…” Kata Bayu dengan santai, seperti tanpa beban.
“Apa rugi, jika kalian melakukan semua itu?!” Tanya tante Ike.
“RUGI BANGET!!” Kata Bayu dan Mizan bersamaan.
“Apa ruginya?”
“Semuanya.!!” Kata Mizan.
“Sebutkan?! Apa kegiatan kalian itu berguna?!!”
“Ma, semuanya itu jadi berantakan…aku jadi tak bisa pergi bareng teman-teman, Kak Bayu tak jadi BaLi, Kak Bayu jadi rugi jutaan…Tak jadi party…Tak bisa nongkrong sama teman-teman….Tak bisa….”
“STOP” Teriak tante Ike. Kedua tangannya menutupi kedua telinganya. Tak tahan mendengar keluhan Bayu dan Mizan, yang jika dirasa, tak pernah berguna itu.Bahkan penyesalan merebak ke dalam hati dan jiwanya. Menyesal mengapa menjadi seperti ini.Ya, Allah, berilah hidayah-Mu pada keluarga ini, kata Azi dalam hati. Semoga Allah SWT mengabulkan do’a Azi yang tulus.
“Mama tidak pernah mau mengerti…!!” Teriak Mizan, suaranya melengking, dan ia pun berlari ke kamarnya.
“BRUAKK!!”
Pintunya ditutup dengan sangat keras. Membuat kaget semua yang ada. Sedang Bayu pun ikut meninggalkan tempat itu. Tanpa berkata-kata. Tante Ike pun tak mampu lagi untuk berkata-kata pula.
“Pranggg…ng”
Benda keras itu melayang ke cermin rias. Cermin yang tak bersalah itupun ikut jadi sasaran kekesalan Mizan. Pecah berantakan.
“Astaghfirullah…..Mizan….apa yang kamu lakukan?!” Kata Tante Ike sambil mengetuk pintu kamar Mizan.
“Dug….prang!!!”
Pintu itu dilempari Mizan.
“Maafkan Mama, Miz!!! Kamu jangan begitu….” Kata Tante Ike lagi. Kali ini dengan menitikkan air mata. Namun, tetap tak ada jawaban.
Malam ini sungguh memilukan. Azi merasa bersalah. Tak disangka, kekayaan tak membuat hati semua orang bahagia. Tak selalu membuat keharmonisan keluarga terjaga. Bahkan karena sibuk mengais rejeki, orang tua sering lupa akan perhatiannya pada anak-anak mereka. Memang akan sulit mengungkapkan kasih sayang pada anak dengan hati. Sekarang, Azi tak tahu harus berbuat apa. Perasaannya galau dan tak tenang.
“Tante….” Kata Azi pelan.
“Eh, Azi…?!” Kata Tante Ike mendekati Azi.
“Tante yang sabar ya. Semua ini pasti ada hikmahnya….” Kata Azi sambil menenangkan Tante Ike.
“Hm….semoga saja….Tante sendiri bingung, Tante dan Om bekerja juga untuk menyenangkan Bayu dan Mizan. Tapi, kenapa malah jadi begini….”
“Tante, uang memang dapat menyenangkan Bayu dan Mizan, tapi perhatian dan kasih sayang juga mereka butuhkan…..”Kata Azi.
“Tante berharap Bayu dan Mizan seperti kamu….”
“Pastinya mereka punya kelebihan yang belum Tante ketahui….”
“Doakan saja Zi….!” Kata Tante Ike. Matanya yang sudah memerah itu, kini berkaca-kaca lagi. Titik-titik bening bermunculan dan jatuh berlinang. Membasahi pipinya. Tak sanggup berkata-kata lagi. Ditambah dengan suara yang terdengar dari kamar Mizan.
“Tante tenangkan diri ya…”
“ ….”
“Dan Azi minta maaf, karena Azi tidak dapat memenuhi kewajiban Azi, untuk mengajar Bayu dan Mizan mengaji….”
“Tak apa! Tante berterima kasih, karena kamu mau berusaha mengajari mereka…”
“Sama-sama, Tan! Kalau begitu saya permisi dulu, soalnya sudah larut malam.” Kata Azi berpamitan.
“Oh ya….sekali lagi maaf dan terima kasih ya, Zi….” Kata Tante Ike sambil menghapus air matanya.
Malam itu, Azi diantar oleh sopir Tante Ike. Dalam benaknya masih merasa risau dengan kejadian tadi. Dalam perjalanan pulang, Azi hanya diam. Matanya memandang ke luar jendela. Pikirannya melayang . Entah ada di dunia mana. Dalam hatinya, ingin sekali melupakan kejadian tadi. Berharap, sifat seperti tadi itu dijauhkan dari dirinya. Dan semoga Allah SWT selalu menuntun dirinya ke jalan yang lapang, cerah, dan lurus.Namun semakin ingin melupakan,tapi malah semakin terngiang-ngiang jauh ke dalam pikirannya. Hatinya bingung. Haruskah ia menyalahkan dirinya sendiri? Atau diam, mengacuhkan diri. Dalam hatinya terusmenerus berdoa. Dzikir pun tak luput diucapkannya.
Kejadian itu kini telah berlalu. Walau kadang-kadang, masih membayang-bayanginya. Empat hari sudah berlalu. Dan jika diperhatikan, perilaku dan sifat Bayu dan Mizan semakin menjadi-jadi saja. Tak lagi mau mendengar kata-kata Tante Ike. Tak lagi merespon apa yang diberikan Azi. Sore itu, Azi meluapkan segalanya. Tak tahu bagaimana mulanya. Azi merasa tak tahan lagi dengan keduanya. Kepenatan dan kepadatan dalam hatinya. Karena sifat dari Bayu dan Mizan yang tak kunjung berubah. Dalam emosi yang sedang meledak-ledak, Azi tetap berharap agar Bayu atau pun Mizan dapat mengerti dan mau berubah, ya, barang sedikit demi sedikit. Tiba-tiba saja….
“Maafkan Mizan, Kak…?!” Kata Mizan dalam isakan tangisnya.
“Hiks…hiks…hik…..” Suara tangisan Azi yang masih terisak. Bahkan sangat sulit untuk mengeluarkan kata-kata. Rasanya kata-kata yang ingin keluar, tersangkut pada tenggorokannya. Suasana itu pun berlangsung cukup lama.
Tanpa sadar, Bayu merenungi juga, tentang apa yang diucapkan Azi tadi. Hingga ia mendapati satu makna yang begitu dalam. Lalu, direbahkannya tubuhnya itu di atas kasur busa yang empuk. Matanya memandang ke atas, langit-langit di kamarnya yang di buat hampir menyerupai langit pada malam hari. Bayangan membuatnya melayang. Entah harus berbuat apa, ia tak tahu. Hm, harusnya aku bisa lebih dewasa, kenapa mesti aku yang ada dalam masalah seperti ini?? Tanya Bayu pada dirinya sendiri. Sepertinya, pertanyaan itu akan lama untuk terjawab. Matanya kini mulai redup. Tubuhnnya terasa lelah. Dan akhirnya ia pun terlelap di antara gelap malam.
Pada pagi harinya, entah ada angin apa yang meniup mata hati Bayu dan Mizan. Kini mereka lebih sopan dan santun. Ya, sedikit perubahan kecil. Semoga saja akan menghantarkan mereka ke dalam perubahan yang besar. Yang nantinya dapat berguna untuk kehidupan mereka.
“Ma, Bayu sama Mizan berangkat duluan ya…. Assalamu’alaikum…!!”Kata Bayu yang berpamitan pada Mamanya. Tante Ike merasakan betapa bahagianya pada hari itu. Terharu, itu pasti.
“Wa’alaikumsalam…hati-hati, ya, Bayu….” Kata Tante Ike.
“Iya…..” Teriak Bayu sambil memacu sepeda motornya. Mizan pun menoleh ke arah Ibunya, dan memandangnya dengan senyuman.
Hari itu begitu berbeda dengan hari-hari yang sebelumnya. Bayu pun dapat merasakan hal itu. Ternyata deengan usaha yang sederhana, dapat membuat hatinya merasa tenang. Tak seperti hari-hari yang ia lewati sebelumnya. Sekarang ini ia dan keluarganya berharap dapat seperti ini, sekarang besok, lusa, bahkan selamanya.



Sembilan



Untuk beberapa hari ini, Azi dan Bayu terlihat semakin dekat. Apa lagi dengan Mizan. Ia sudah mulai terbuka pada Azi. Mau bercerita tentang masalahnya. Ucapan syukur tak henti-hentinya. Ibarat air yang mengalir pelan. Diibaratkan pula pada seujung kuku, karena ujung kuku tak pernah habis, walau selalu dipotong. Dengan kebersamaan yang begitu sering, sikap Bayu kepada Azi lam,a kelamaan layaknya sepasang kekasih. Bahkan tingkah mereka membuat Izam heran dan merasa telah kalah dalam berperang.
“”Azi…?!” Panggil Bayu.”Aku tak tahu harus bagaimana, kamu baik sekali pada ku dan kelurga aku. Walau yang dulu-dulu, sifat aku sudah tak mengenakkan hati kamu dan sering menyakiti perasaan kamu, tapi kamu tetap berusaha membuat aku dan Mizan berubah….berubah menjadi seperti sekarang ini…..”
“Sudah lah… jangan diteruskan….semuanya memang harus begini. Aku hanyalah sebagai perantara saja….Allah SWT yang mengatur semuanya!!” Kata Azi yang memotong kalimat Bayu.
“Kamu tahu, setiap aku ingat kamu, aku selalu ingat dengan kata-kata kamu, yang setiap saat harus selalu menjalankan sholat…Dan aku melakukannya setiap hari karena kamu……” Kata Bayu sambil memandang wajah Azi yang mungil.
“Em…maaf ya, Bay!? Kamu jangan melakukan itu semua karena kamu ingat sama aku, tapi lakukan karena kamu selalu merasa diawasi oleh Allah… Tanamkan saja nama Allah pada hati kamu. Dan insya Allah kamu akan lebih dekat dengan-Nya…” Kata Azi.
“Iya, aku tahu… aku akan coba melakukan semua itu…” Kata Bayu.
Oh, Tuhan, terima kasih atas semua karunia-Mu. Semua atas kehendak-Mu….Kata Azi dalam hati, sambil memandang wajah Bayu yang tertunduk membaca buku yang di bawakan Azi. Andai saja dari dulu seperti ini, pastilah akan lebih mudah… Kata Azi lagi. Dengan segenap daya dan upaya, Azi dan Bayu berusaha menutupi rasa malu. Berusaha membuang rasa canggung.
“Bayu?!” Panggil Azi.
“Iya?! Ada apa…?!”
“Aku pulang dulu, ya?! Sudah sore…”
“Tak bisa nanti aja pulangnya?! Kan kamu belum ketemu sama Mizan…Dia belum pulang…tunggu aja ya?!” Kata Bayu yang mencoba untuk mencegah Azi pulang lebih awal.
“Em, tak bisa, Bay!? Mungkin besok sore aja lah… Kita kumpul bertiga…!?” Kata Azi.
“Iya, sih!? Tapi….”
“Ya udah …. Aku pulang duluan ya?! Salam aja buat Mama kamu sama buat Mizan.”Kata Azi.
“Hm, ya sudah…!! Makasih, ya!! Eh, aku pinjam dulu bukunya, bagus bacaannya….” Kata Bayu.
“Iya, bawa aja… ya sudah, Assalamualaikum…” Kata Azi yang berpamitan sambil berucap salam.
“Waalaikumsalam…hati-hati ya….” Kata Bayu sambil melempar sebuah senyuman ke arah Azi.
Sore itu sangat dinikmati oleh Azi. Batin dan raganya seakan menjadi ringan, dan mampu diterbangkan oleh angin. Sungguh tak ternilai lagi harganya. Bisa merasakan hidup yang nyaman dengan orang-orang yang disayanginya. Hidup ini layaknya seperti langit yang kebiruan, dengan sedikit awan.yang mana awan merupakan suatu massalah dalam kehidupan itu. Dan pada akhirnya, seperti matahari yang berpulang ke peraduannya, karena telah lelah seharian menyinari sudut kota.
Sampai di depan rumah, Ibunya sudah nenanti di dalam rumah. Mendengar Azi mengucapkan salam, Ibunya langsung saja berdiri dan keluar denga tergopoh-gopoh.
“Assalamualaikum….” Kata Azi berucap salam.
“Waalaikumsalam….. Aduh-aduh, Ndhuk!! Kamu ini kok baru pulang?! Ibumu ini sudah khawatir dari tadi. Sudah mondar-mandir, seperti orang yang kebakaran jenggotnya…. Hati Ibumu ini suda ndhak tenang…” Kata Ibu Azi panjang lebar. Seperti telah menghafalkan kata-kata itu. Mendengar hal itu, Azi hanya tertawa kecil.
“Iya, Bu!? Maafkan Azi…. Tadi itu Azi ke rumah Tante Ike. Lagi pula, bukankah Ibu ini sudah tahu….”
“Iya, Ibu tahu… tapi kok ya lama sekali di sana…. dan sekarang Ibu mau bicara… tapi kamu mandi dan ganti baju dulu….” Kata Ibunya. Dan tanpa berkata-kata lagi, Azi menurut saja apa yang disuruh Ibunya itu. Dalam benaknya, ia sangat khawatir. Ada apa gerangan!! Hingga Ibunya seperti sangat cemas seperti itu. Namun, semua itu ditutupinya rapat-rapat.
Tak lama Azi selesai. Lalu dilihat Ibunya duduk di kursi yang sudah lusuh itu. Karena memang sudah banyak tambalan dimana-mana. Wajahnya terlihat sangat cemas dan penuh akan ketakutan. Sebelum kecemasan itu terlihat jelas, akhir-akhir ini, Ibunya terlihat sering melamun. Lalu di hampiri Ibunya yang duduk sendirian itu.
“Ipang kemana, Bu?!” Tanya Azi untuk memulai pembicaraan.
“Ipang tadi mengaji di mushola…” Kata Ibunya. Sedang Azi duduk tepat di samping Ibunya.
“Ibu mau bicara soal apa?!” Tanya Azi. Mendengar hal itu, Ibunya menatap dalam-dalam mata yang bening itu. Seperti memohon belas kasihan pada anak gadisnya.
“Hm….Azi, Ibu tak tahu lagi harus berbuat apa?! Ibumu ini sudah bingung… ibu takut, kamu akan lebih susah lagi….” Kata Ibunya. Matanya mulai memerah, hendak menangis.
“Maksud Ibu apa?! Bilang saja, Bu… Insya Allah, Azi akan dapat mengerti….” Kata Azi yang mencoba untuk menenangkan hati Ibunya tersayang.
“Tadi siang, Pak Harko datang!? Beliau meminta kita untuk mengembalikan uang yang kita pinjam tahun lalu… dan kita diberi jangka waktu selama dua hari saja….” Kata Ibunya.
Mana cukup waktu dua hari untuk mencari uang sebanyak itu?! Tanya Azi dalam hati. Tubuhnya lemas seketika.
“Ibu tak tahu harus bagaimana, Zi!! Ibu sudah bingung….” Kata Ibunya lagi.
“Ibu tenang aja, ya?! Azi akan berusaha untuk mendapatkan uang dalam waktu dekat ini. Agar kita dapat melunasi utang-utang kita pada Pak Harko…” Kata Azi yang menenangkan hati Ibunya lagi.
“Maafkan Ibu, ya, Ndhuk…. Ibu cuma bisa diam….tapi kamu malah yang bersusah-susah. Ibu juga tak bisa membahagiakan kalian… tapi malah membawa kalian ke dalam hidup yang susah ini…..”
“Bu, semuanya akan baik-baik saja. Dan semua ini akan terasa ringan jika kita jalani sama-sama…. Dan Azi tak pernah merasa keberatan kok. Dengan seperti ini, Azi dapat mengambil hikmahnya dan Azi juga bisa sedikit demi sedikit berlatih untuk dewasa. Berserah diri saja pada Allah, jika kita sudah tak mampu, maka Allah akan memberi kita bantuan, yang entah itu semua melalui perantara apa….” Kata Azi.
“Ya, Allah… anakku. Ibu berharap, Allah memberimu kehidupan yang lebih baik dari sekarang ini….” Kata Ibunya.
“Amin!! Semoga saja itu terkabulkan oleh Allah….” Kata Azi pelan. Di pandangnya seraut wajah yang telah lama ia kenal itu.
Dalam dua malam berturut-turut, Azi susah sekali untuk memejamkan mata. Masih berpikir, bagaimana caranya mendapatkan uang sebanyak itu. Waktu orang-orang nyenyak terbuai oleh mimpi, ia beribadah, melakukan sholat malam. Memohon pada Allah SWT, agar diberi jalan keluar yang terbaik. Hingga pagi hari, saat batas hari yang ditentukan itu tiba. Azi belum juga mendapat uang lebih untuk membayar utang-utangnya pada Pak Harko. Pasti Pak Harko akan marah, pikir Azi.
Dari pagi, Ibunya sudah cemas saja. Perasaan takut terus menggerogoti sisi-sisi hatinya yang telah lemah karena masalah ini. Akan tetapi, walaupun dalam keadaan seperti ini, Mereka tetap selalu mendekatkan diri pada Allah SWT. Karena mereka yakin, Allah akan menolong mereka. Pak Harko, orang yang sejak tadi dinanti, tak kunjung datang. Apa harus saya yang harus ke sana? Ke rumah Pak Harko. Tanya Azi pada dirinya sendiri. Lalu tekatnya menyuruhnya untuk datang saja ke rumah Pak Harko. Dengan hanya berbekal uang yang seadanya dan secuil keberanian, ia mendatangi rumah itu. Kuatklah dan lindungilah aku, ya, Allah!! Kata Azi dalam hati.
“Assalamualaikum…” Kata Azi yang berucap salam, ketika ia telah sampai di depan pintu rumah Pak Harko.
“Waalaikumsalam…” Jawab seorang wanita yang kiranya seumuran dengan Ibunya. Akan tetapi ia terlihat awet muda.
“Maaf , Ibu. Saya ingin bertemu dengan Pak Harko?!” Kata Azi dengan sangat ramah. Dan mencoba untuk membuang rasa takut yang sedari tadi tengah menyelimuti benaknya.
“Hm, sebentar…!!” Kata Ibu itu dengan sangat kasar. Hingga terasa dalam hati Azi, rasa sakit yang teramat sangat. Tapi dengan kerendahan hati, Azi mencoba untuk tidak menyimpan rasa dendam. Azi menunggu di depan pintu dengan berdiri, karena dirinya belum dipersilahkan masuk atau pun duduk. Tak lama, wanita tadi keluar dengan seorang laki-laki yang kira-kira sudah berumur enam puluh tahunan. Ternyata ia lah yang sedari tai di tunggunya.
“O, Azi…” Kata Pak Harko.”Ayo, masuk, silakan duduk….” Kata Pak Harko yang mempersilakan AZi.
Ha?! Tumben baik banget!! Jangan-jangan memang sengaja baik-baik. Kata Azi dalam hati. walau cemas, ia tetap memasang wajah dengan senyum yang meriasinya.
“Begini, Pak!! Sebelumnya saya minta maaf… soalnya uang yang saya pinjam waktu itu, belum semuanya dapat saya kembalikan. Saya hanya punya…” mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu.”Empat ratus ribu saja….” Kata Azi memohon.
“Simpan saja uang mu itu… masukan lagi ke dalam kantongmu.” Kata Pak Harko dengan senyum mengembang di wajahnya.
“Lho, tapi, Pak… saya tak mengerti apa maksud Bapak….”
“Begini, kemarin itu ada seorang pemuda yang baik hati. ia membayar semua utang-utang kamu. Dia melunasi semuanya…” Kata Pak Harko menjelaskan kepada Azi.
“Kira-kira siapa, ya, Pak?!” Tanya Azi dengan sigap.
“Entahlah, ia tak mau menyebutkan namanya….” Kata Pak Harko.
Waduh, baik sekali orang itu. Membayar utang-utang ku pada Pak Harko. Yang padahal, jumlahnya tak sedikit. Kira-kira siapa, ya?! Kenapa melakukan semua itu ke aku?! Dari mana orang itu tahu kalau aku punya utang sama Pak Harko?! Apa dia itu orang terdekat ku?! Atau jangan-jangan dia itu….Bayu?! Tanya Azi pada dirinya sendiri. Yang tiba-tiba saja nama Bayu di sebutnya dalam pikirnya. Tapi apa mungkin.
“Em, ya sudah, Pak!! Azi berterima kasih sama Bapak. Sudah dicukupi… Azi permisi pulang, ya, Pak?!” Kata Azi berpamitan.”Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam…..”
Dalam perjalanan, Azi masih memikirkan sosok orang yang telah membantunya itu. Masih bertanya-tanya dalam hati. Walau dapat dipastikan akan lama untuk terjawab. Dan orang itu akan selalu ada dalam ingatan Azi, meski pun ia sendiri tak tahu siapa orang yang telah berbaik hati padanya itu. Kini Azi dapat tenang sejenak. Masalah dalam keluarganya telah selesai. Tinggal menunggu cobaan apa lagi yang akan di berikan Allah SWT kepadanya.



Sepuluh



Hari yang menyenangkan itu kini telah berlalu. Hanya dapat menjadi suatu kenangan. Namun masih melekat dalam pikiran Azi. Sekarang timbul lagi satu masalah yang harus dengan jeli menyelesaikannya. Entah bagaimana mulanya, Bayu dan Izam, pada saat yang bersamaan, menyatakan perasaannya yang lebih dari seorang sahabat. Dua laki-laki yang telah hadir dalam kehidupannya. Yang telah memberikan warna-warni dalam hari-harinya. Hidup memang suatu pilihan. Dan pilihan yang salah akan dapat merusak cerita dalam sejarah hidup. Keduanya meminta jawaban saat itu juga. Sedang Chasan, telah berpamitan beberapa hari yang lalu. Bahwa ia hendak melanjutkan sekolahnya di negeri kincir angin, Belanda. Ia pindah studi karena orang tuanya yang pindah tugas ke sana. Jadi, mau tak mau, Chasan harus ikut ke sana. Lagi pula, di Indonesia , ia tak punya sanak saudara yang dekat.
“Zi, aku mohon beri jawaban sekarang….” Tanya Izam. Azi semakin bingung saja. Rasanya tak mungkin saja jika ia harus memilih Izam. Izam adalah sahabatnya sejak dulu. Bahkan ia menganggapnya sebagai sahabat yang paling baik, juga sama dengan perasaannya pada Chasan. Dan sedikit tahu, diam-diam Chasan sudah lama menyimpan perasaan lebih pada Izam. Karena setiap kali Izam dan dirinya bersama, Chasan selalu menunjukkan perasaan yang tak senang. Kalau bisa di bilang anak jaman sekarang, cemburu. Dan sudah tak mungkin jika ia harus melukai hati Chasan. Ya, walau pun sekarang ini, Chasan sudah pergi jauh. Sedang perasaannya pada Bayu, ia tak dapat menilai secara sepihak. Karena memang Azi dan Bayu belum lama kenal. Apa lagi pada saat pertama mereka bertemu, sifat Bayu begitu kasar terhadapnya. Dan sempat melukai hatinya. Bahkan lebih dari sekali saja.
“Aku tak tahu….dengan perasaan ku sendiri…..” Kata Azi yang memang sedang bingung.”Apa kalian ini tak salah memilih aku….?! Aku hanyalah orang yang biasa saja…. Tak berpunya…. Apa kalian ini sudah tak waras?!” Kata Azi yang sudah mulai lelah dengan semuanya.
“……” Bayu dan Izam hanya diam. Tampaknya mereka berpikir keras dengan apa yang telah di ucapkan Azi.
“Tapi telah lama perasaan ini bersemayam dalam palung hati ku….” Kata Izam.
“Dan aku tak akan mungkin salah memilih kamu, Zi!!” Kata Bayu yang ternyata ikut-ikutan mendesak Azi.
“Apa tak ada toleransi waktu, untuk aku memikirkannya sejenak….” Tanya Azi.
“Tidak!! Aku inginkan jawaban itu sekarang… kamu pasti bisa memilih salah satu antara aku dan Bayu….” Kata Izam.
“Kalian tahu, aku sangat bangga karena telah menemukan sahabat-sahabat seperti kalian…..Aku bahagia karena kalian telah hadir dalam kehidupan ku….Aku tak ingin ka;ian merusak semuanya itu…. Ku harap kalian mau mengerti perasaan ku… sekarang, kita jalani saja masa-masa dengan apa adanya…” Kata Azi yang mencoba untuk menyadarkan teman-temannya. Dan tak satu pun yang di pilih oleh Azi.
“Tapi, Zi… bagaimana dengan perasaan ku…?! Aku sungguh sayang sama kamu…Apa kamu tak memperdulikan aku…” Kata Bayu yang masih berusaha membujuk Azi.
“Apa kamu tahu tentang arti sayang kamu itu?! Jangan kamu sekali-kali menyatakan semua itu jika kamu belum tahu tentang semuanya…. Sayang lah kepada Alla SWT saja…. Karena Dia yang menghidupkan kalian….Dan Dia juga yang akan mematikan kalian.” Kata Azi sambil memandang keduanya.
Angin siang itu senyap. Mengangguk-angguk sembari bertasbih. Azi tersenyum, karena dalam pandangan hatinya yang bening, tengah melihat dua sahabatnya ikhlas menerima keputusannya. Sekarang Azi merasa lega! “Esok, kalian akan semakin sadar, bahwa satu nama dalam hatiku hanyalah…..Allah!”

Selesai.

back

Tidak ada komentar:

Posting Komentar