Jumat, 09 Juli 2010

Hujan untuk Pian

HUJAN UNTUK PIAN
Oleh: Nunik Widiyati




Kutatap jendela kamar yang sedikit tertutup kain gorden. Desiran angin masuk melalui sela-sela ventilasi. Buku harian yang baru saja aku isi masih dalam genggaman. Aku mendengar suara ribut di depan rumah. Aku beranjak dari kamar menuju ruang tamu. Sebuah honda jazz warna merah dan truk mini membawa perabot rumah terparkir di dekat pintu gerbang rumah. Kuintip mereka, melalui sela-sela jendela ruang tamu. Mereka tampak sibuk dengan segudang aktivitas masing-masing.
“Akhirnya, rumah angker dan mewah itu ada juga yang menempati” ucapku dalam hati, sambil tetap memandang mereka yang hilir mudik mengangkat barang-barang untuk dibawa ke dalam rumah. Tiba-tiba Ibu menepuk bahuku membuat aku kaget dan bangun dari lamunanku.
“Ih…Ibu, bikin Syifa kaget saja untung aku nggak jantungan!!” kataku mengelus dada dan duduk di sofa yang empuk.
“Lihat apa kamu Fa??” ujarnya sambil melihat keadaan di luar rumah yang agak sedikit bergemuruh.
“Mereka calon tetangga baru kita ya, bu!!!” Ibu hanya mengangguk menanggapi pertanyaanku.
Esok paginya, aku berangkat sekolah dengan seragam putih abu-abu. Aku berjalan menuju ujung kompleks rumah untuk mencari bus. Dalam perjalanan aku melihat seorang lelaki memakai kursi roda berada di halaman rumah angker itu. Hatiku bertanya-tanya apakah ia tetangga baruku. Tenpa peduli kulangkahkan kakiku yang ringan untuk segera sampai di ujung kompleks. Aku menanti bus yang tak kunjung tiba. Akhirnya, sebuah bus berhenti dihadapanku dan aku segera ingin tiba di sekolah. Dengan hati yang agak resah aku berjalan melintasi pintu gerbang sekolah. Sesampai di koridor sekolah Adnan cs yang merupakan kakak kelasku mencegah langkahku.
“Bayar!!! Pajak jalan!!!” tukasnya dengan nada membentak.
Aku menggaruk-garuk kepalaku, sambil mengingat-ingat, sejak kapan pajak di sekolah diberlakuklan. Ia menengadahkan tangan dan kuberi yang Rp. 1.000,00 yang aku dapat di kamar tidurku semalam. Dengan langkah cepat kutinggalkan Adnan dan kawan-kawannya.
Bel berbunyi, jam pertama adalah matematika, aku harus berfikir ekstra karena materi yang diberikan adalah logaritma. Tak terasa jam terakhirpun usai. Kuambil tas yang tergeletak manis dalam laci. Kulangkahkan kaki yang ringan menuju keluar kelas. Seseorang memanggilku dengan suara merdu nan rendah. Kutoleh dia dan kuberikan semanis mungkin senyumku.
“Syifa, tunggu!!! Dipanggil dari tadi nggak noleh-noleh, budi ya kamu??” ucap Tika teman sebangku sambil tertawa.
“Enak, aja!! Budi, budi…kupingku masih normal tapi sekarang agak konslet, kenapa?? Mau nganterin aku pulang ya??” tanyaku dengan tetap berjalan.
“He’em… aku pingin nganter kamu pulang tapi aku mampir ke rumah kamu ya!! Aku kangen sama brownise buatan Ibu kamu!! Kan aku udah lama nggak main ke rumahmu!!” ucapnya sambil mengibaskan rambutnya yang panjang dan lurus.
“Kamu boleh aja main tapi nanti aku sehabis sekolah latihan karate, jadi aku nggak bisa nemenin!!!” jelasku melanjutkan jalan.
“Ya udah, besok aja aku main ke rumahmu, tapi sekarang aku anter pulang ya!!” tawarnya sambil mendekati motor maticnya yang dibalut warna pink.
Aku hanya mengangguk, sesampainya di rumah aku mempersilahkan Tika masuk, tetapi dia menolak. Tika berlalu begitu cepat dan hilang termakan mendung. Kulangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah. Sehabis makan siang dan mandi kuambil sepeda mini di garasi. Ku kayuh sepeda itu di jalan raya yang agak sepi. Tibanya di tempat latihan, yang jaraknya hanya 2 km dari rumah kuletakkan sepeda di tempat parkir. Dengan baju putih dan sabuk cokelat aku bergulat dengan Kak Refan, yang merupakan senior. Ku keluarkan jurus-jurus yang telah aku dapat dan kupelajari. Tak terasa waktu berputar bagai pusaran angin, begitu cepat dan latihanpun usai.
Aku pulang dengan sedikit keringat di dahiku menetes satu-satu di bajuku. Hari yang mulai senja membuat aku mengayuh sepeda mini itu. Sesampainya di rumah kurebahkan tubuhku di ranjang kamar. Ditho adikku menghampiriku yang tergolek lemas di ranjang. Dia bercerita tentang lelaki misterius di halaman rumah angker itu. Ia menjelaskan bahwa lelaki itu ialah kakak kelasnya bernama Pian. Dia sakit dan tidak melanjutkan sekolah.
Malam harinya, aku menghampiri Ayah dan Ibu yang sedang bercakap-cakap dengan wanita separuh baya. Akupun berkenalan dengannya, namanya tante Sonya yang merupakan Ibunda Pian. Aku begitu takjub melihat dia, tampak muram dan sorot matanya kelam. Tapi kesedihan itu tampak ia tutupi dengan senyumnya yang manis.
“Sebenarnya siapa mereka?? Tante Sonya?? Begitu pula Pian” tanyaku pada diri sendiri saat Tante Sonya telah pergi meninggalkan rumah.
Hari Minggu aku asyik mencuci sepeda miniku, dipanggil oleh Tante Sonya. Akupun berlari menghampirinya yang berdiri di ambang pintu rumahnya. Dengan terengah-engah aku hapus peluh yang menetesi pipi.
“Kamu bisa tolong tante tidak Syifa??” ucapnya. Aku hanya mengangguk dan coba mengatur nafasku yang berantakan.
“Tante titip Pian ke kamu ya, tante dan om mau cari tempat Therapi” jelasnya sambil membelai rambutku yang pendek.
“Tapi tante, Syifa belum kenal Pian!!!” ujarku penuh alasan.
Tante Sonya membawaku masuk ke dalam rumahnya. Aku masuk ke dalam ruangan di lantai atas, begitu mewah rumah ini bagiku tampak seperti istana yang begitu indah. Disitulah Pian duduk manis di atas rodanya, dengan wajah yang pucat dan menyeramkan.
“Pian kenalkan ini Syifa, nanti kamu mama tinggal berdua dengan dia ya!!! Mama mau mencari tempat therapy” jelasnya.
“Hey!! Kenalin namaku Syifa!!” ujarku sambil menjulurkan tangan.
Tapi dia tidak membalas jabatan tanganku, justru dia memalingkan wajahnya. Aku tak tahu apa salahku, segitu dingin dan seramnya dia.
“Buat apa disini, ma?? Aku bisa jaga diri!! Aku berani di rumah sendiri!!” ucapnya dengan nada datar dan tawar.
“Pian!! Mama ingin kamu punya teman!! Ya udah Syifa, tante titip Pian ya!!” jelasnya meninggalkan kami berdua di kamar.
Aku hanya diam dan berdiri sambil melihat-lihat akuarium yang bergemericik. Sejenak kulirik Pian, yang masih terpaku duduk di kursi roda. Detik demi detik berlalu, berganti menjadi jam. Aku tak tahu sampai kapan keheningan ini berakhir.
“Kalau capek, duduk disitu!!” Kata Pian mengisi kebisuan sambil memutar kursi rodanya menjauhiku.
Aku hanya mengangguk dan menuruti perintahnya. Di meja dekat tempat aku duduk tergeletak secarik kertas buram. Di kertas itu ada lukisan seorang gadis berjilbab tersenyum manis. Gambar itu abstrak dan tak jelas. Kuambil gambar itu, kutatap lekat-lekat lukisan itu. Aku tahu gadis dalam gambar itu, tapi siapa pikirku. Pian mendekatiku, direbut kertas dalam genggaman dengan tatapan sinis ia merobek kertas itu.
“Kamu itu lancang ya!! Melihat dan memegang barang orang lain!!” ucapnya ketus dan emosi.
“Maaf, aku tidak sengaja!!” jelasku serambi membenahi kaos putih yang aku kenakan.
Kira-kira satu jam berlalu kami tetap berdiam diri tanpa sepatah katapun keluar merusak keheningan. Dia sesekali menatapku sambil tersenyum sendiri. Aku heran padanya. Seorang yang cukup misterius bagiku. Sulit ditebak.
“Waktunya aku minum obat, tolong ambilin!! Obatnya di meja itu dan air putihnya disampingnya” perintahnya padaku.
“Ya!! Ini diminum!!” ucapku dingin.
Tepat pukul 15.00 WIB, aku pulang meninggalkan Pian dan rumahnya karena Ayah dan Ibunya sudah pulang.
“Pi… aku pulang ya!!!” kataku sambil beranjak meninggalkannya.
“Makasih ya, Fa… udah mau nemenin aku!!” ucapnya singkat tapi lembut.
Esok paginya aku berangkat ke sekolah, dianter Ditho dengan motor Satria FU miliknya. Tibanya di kelas Tika mengomel panjang dan lebar padaku. Aku hanya diam dan membisu. Sampai aku tak dengar kalau dia benar-benar marah. Wajah Pian menghantuiku, sejak semalam terbayang wajahnya yang misterius.
“Syifa… kamu dengar nggak sih!! Ah!! Kamu nggak asyik…teman apa namanya itu??” ucapnya.
“Iya maaf … maaf!! Aku lupa kalau kamu mau main, swear!!” ujarku singkat.
Pulang sekolah kurebahkan tubuhku di ranjang. Ku lirik jam bekkerku di meja, dan kuambil handukku. Aku berencana untuk jalan-jalan mengelilingi kompleks dengan sepeda miniku, tetapi rencanaku harus batal. Tidak kusangka Pian bersama Tante Sonya berada di rumahku.
“Sore Syifa!! Aduh cantiknya, mau kemana kok pakai jilbab??” ujarnya serambi mendorong kursi roda Pian mendekatiku.
“Nggak kemana-mana kok, cuma pengen aja pakai jilbab, biar jadi kebiasaan gitu lho!!” kataku berbohong.
“Tante cuma mau nganterin Pian, katanya pengen ketemu kamu!!” jelasnya sambil beranjak mendekatiku.
“Oh!! Begitu ya tante!! Kirain ada apa??” jawabku dengan senyum palsu.
Tante Sonya berpamitan pulang, dan meninggalkan kami berdua. Pian mengajakku untuk pergi ke rumah sakit, karena dia akan theraphy. Sejenak aku berfikir, membuat hening suasana detik itu. Aku bingung, apa yang harus ku perbuat. Tangannya menyentuhku dengan lembut dan aku hampir melompat karena kaget. Aku hanya mengangguk menyetujui permintaannya.
Setibanya di Rumah Sakit, Pian memasuki ruangan untuk theraphy sekaligus check-up. Aku hanya menunggunya di luar bersama supir pribadinya, Pak Amat. Kami bercakap-cakap panjang lebar tentang Pian. Katanya Pian menderita penyakit Thalasemia Mayor yang merupakan kelainan darah akibat tidak cukupnya hemoglobin. Sehingga membuat Pian harus mendapatkan transfusi darah yang dilakukan sekali dalam 4 minggu dan perawatan medis yang teratur. Agar Pian dapat bertahan hidup lebih lama ia membutuhkan suntikan besferal hampir setiap hari. Yang berfungsi untuk mengeluarkan zat tubuh melalui air seni. Jelasnya padaku dengan mata berkaca-kaca.
“Apakah dia bisa sembuh, Pak??” tanyaku penasaran.
“Pengobatan terbaru yang pernah saya dengar adalah dengan cara sumsum tulang!!” jelasnya lagi.
Tak lama kemudian Pian keluar dengan Dokter pendampingnya. Separah itukah hidup Pian?? Pikirku. Aku tak menyangka, jika orang seperti dia harus menanggung rasa sakit yang teramat dalam. Apa dia mampu?? Apakah dia akan tabah?
Tak terasa air mataku jatuh basahi pipi. Pelajaran baru aku petik dari sosok Pian yang misterius bagiku. Apa jadinya jika aku yang ada di dalam dirinya?? Apa aku bisa tabah dan mampu hadapi hidup. Hidup tabah dan tetap tenang itulah yang aku baca dari sosoknya. Sesampainya di rumah langsung kuambil air wudlu untuk melaksanakan sholat maghrib. Percikan air membuatku terasa tenang dan damai. Kulangkah kaki menuju kamarku, kuambil mukenah yang tergeletak di atas ranjang. Selesainya sholat, kulipat mukenah dan kutulis diary yang tersimpan dalam meja belajarku. Kutuliskan kata-kata indah, membentuk sebait sajak dan merupakan isi hatiku. Tiba-tiba Ditho masuk ke dalam kamarku.
“Kakak cinta ya sama Kak Pian?? Ngaku aja deh!!” tukasnya sambil berbaring di ranjang.
Tapi kau tak meresponnya, kulanjutkan menulis Diary yang hampir penuh satu lembar.
“Kakak!!!” teriak Ditho sambil melemparku boneka.
“Apa sih, Ditho!! Ganggu aja tau nggak??” balasku sambil teriak dan melemparnya dengan bantal.
“Iyakan suka?? Ngaku aja ngapa!! Sulit amat, kelihatan lho Kak, iya kan hayo!!” ucapnya.
“Heh!! Anak kecil tahu apa tentang cinta!! Udahlah sana keluar!! nggak usah ganggu kakak!! Lagian aku tuh baru kenal Pian belum lama!!” jelasku sambil marah-marah.
“Tapi aku baca, dibuku sejarah kakak ada tulisan I LOVE PIAN!!” ucapnya meninggalkanku.
Aku baru ingat, kutulis itu saat aku merangkum materi sejarah dan lupa kuhapus. Aku juga tak tahu mengapa ini bisa terjadi, perasaan itu datang tiba-tiba. Malam yang dingin menemaniku dalam belajar. Satu per satu kubaca dan kupelajari rumus-rumus yang membuatku pusing. Aku tak dapat mengandalkan Heru, cowok paling pandai di kelas.
Esok harinya, sesampainya di sekolah kuulangi, materi yang kupelajari semalam. Tiba-tiba Adnan Cs datang kekelasku, tak tahu apa yang mereka lakukan. Mungkin mereka ingin meminta-minta uang seperti kejadian waktu di koridor saat itu. Ataukah mereka datang dengan tujuan lain. Entahlah aku takkan menggubrisnya.
“Tika!!!” teriak Adnan pada Tika yang sedang asyik bercermin dan menyisir rambut panjangnya. Tika tetapi tak pedulikan itu, justru dengan santainya dia memoleskan hand and body ketangannya.
“Tika, aku ingin bicara… bicara tentang hubungan kita!!” katanya sambil mendekati meja Tika.
“Udahlah, tak ada yang perlu dibicarain!! Sekarang kamu pergi atau aku akan panggil satpam, untuk ngusir kamu!!!” jelas Tika dengan ketus dan nada sedikit membentak.
Belpun berbunyi, Ibu Rosyidah pun masuk ke kelas dan menyuruh semua siswa untuk mengeluarkan selembar kertas. Ia merupakan guru yang paling menakutkan dan berbahaya sepanjang masa. Pernah Tika menyontek saat ulangan Fisika, dan ketahuan olehnya disuruh Tika berdiri dan hormat di bawah tiang bendera. Padahal cuaca saat itu lagi panas-pnasnya.
Detik yang berganti menit, berlalu berganti jam. Soal-soal yang cukup sulit berhasil ku kerjakan dengan mudah. Tak terasa jam terakhirpun usai, Tika yang berjanji akan main kerumahku bersedia mengantarkanku pulang. Sesampainya di rumah, Pian sudah menantiku, berdiri tegap tanpa kursi roda jadi penyangganya.
“Hey!! Syifa, lihat aku bisa jalan tanpa kursi roda!!” ucapnya
“Em… aku ngerti!!” ucapku dengan nada tak peduli
“Kok gitu jawabnya?? Kamu harus seneng, karena keadaanku lagi membaik aku bisa jalan tanpa kursi roda!!!” jelasnya panjang lebar.
“Whatever!! But… disaat kamu dropp, inget!! Kamu juga hanya terduduk lemas dikursi roda, Pi..!!” tiba-tiba aku menangis.
Tika yang berdiri dari tadi, hanya bisa diam mengajak kenalan Pian. Mereka saling berjabat tangan dan saling sapa. Rasanya panas haiku, cairan dalam tubuh tiba-tiba naik jadi 100°C. Kupersilahkan mereka masuk ke dalam rumah dan membuatkan mereka minum. Makin lama mereka makin akrab, tertawa, bercanda, bergurau sedangkan aku dicuekin. Rasanya tempat duduk yang kupakai tak begitu nyaman membuatku banyak bergerak. Hingga kuputuskan untuk pergi meninggalkan mereka berdua.
“Mau kemana??” tanya Pian saat tahu aku beranjak pergi dari dudukku
“Pergi!! Borring!!!” ucapku singkat
“Aku ikut ya!!!” ujarnya
Aku hanya diam dan kembali duduk. Mereka berbicara dengan asyiknya tanpa aku. Rasanya terbakar hatiku, mengepul asap dijiwa, mendidih rasa dibatin. Aku tahu apakah Pian mengerti tentang semua. Tiba-tiba Pian menyodorkanku selembar kertas putih tanpa amplop. Aku yang akan membuka lembaran itu dilarang olehnya.
“Bacanya nanti aja kalau aku udah pulang!!” jelasnya dengan lembut.
Tika yang merasa didiamkan oleh Pian ikut nimbrung pembicaraan. Entah apa maksudnya. Tika selalu membanding-bandingkan Pian dengan mantan-mantan pacarnya. Dan menurutnya Pianlah cowok yang paling cool dan style diantara mantan-mantannya. Raut wajahnya dan tingkahku yang sedikit kesal membuat mereka menghentikan tawanya, dan pembicaraan mereka. Dan merekapun berpamitan untuk pulang dengan wajah muram dan merasa bersalah. Tanpa aku menggubrisnya, kulangsung membuka kertas warna putih yang diberikan oleh Pian, tertuliskan :
To : Syifa
Sebuah peristiwa berawal dari pandangan mata,
Jilatan api berawal dari setitik bara
Berapa pandangan yang membelah hati??
Laksana anak panah yang melesat dari tali
Selagi manusia memiliki mata untuk memandang
Dia takkan lepas dari bahaya yang menghadang
Senang dipermulaan ada bahaya di kemudian hari
Tiada ucapan selamat datang
Dan ada bahaya saat kembali
By : Pian

Aku bertanya dalam hati apa maksud semua ini. Tentang bait puisi atau apalah namanya yang dikirim untukku. Aku semakin penasaran dan bertanya siapa sebenarnya sosok Pian, lelaki tampan yang telah mengisi hari-hari sepiku. Esok paginya, saat aku ingin berangkat ke sekolah, Pian menyegatku dan menarik tanganku.
“Ada apa?? Pagi-pagi udah ke sini, tumben udah bangun!!!” ucapku
“Besok, ada acara nggak?? Aku pengen ngomong sesuatu ma kamu, besok aku tunggu di Taman sebelah!! Jam 4 sore, ok!! Ya, udah sana berangkat nanti telat lho!!” jelasnya sambil mengelus kepalaku.
Sehari kemudian, aku pulang sekolah pukul 15.30 WIB. Karena takut telat aku langsung menuju taman tanpa berganti pakaian dahulu. Dengan jalan kaki aku menuju taman, serasa aku terbang di awan. Apa yang akan Pian katakan, mungkinkah dia akan mengungkapkan isi hatinya?? Pikirku dalam hati. Kira-kira 1 jam kemudian, Pian tak kunjung datang, ditambah hari itu sedikit mendung. Tak ada awan yang terlihat cerah, mataharipun mulai menuju peraduan. Dengan sabar aku menantinya hingga bulir-bulir hujan jatuh satu-satu menetes tubuhku. Dalam hitungan menit tubuhku basah kuyup, desiran angin terasa dingin menusuk pori-pori. Hatiku menangis karena Pian tak datang. Kulangkah kakiku yang lemas untuk pulang.
Seminggu kemudian, rasanya ada satu ragaku yang terbang. Kuintip rumah Pian lewat sela-sela jendela kamarku. Tak ada kabar dari Pak Amat maupun tante Sonya, kemana Pian, tiba-tiba menghilang. Gelisah rasa hatiku, serasa ada yang mengganjal di sela-sela jantungku, yang membuatku merasa sakit. Tiba-tiba Pak Amat datang ke rumahku, dia mengajakku ke suatu tempat. Tanpa rasa curiga dibenakku, ternyata dia mengajakku ke Rumah Sakit setempat. Dibawalah aku ke lantai dua dan ke dalam kamar nomor 23.
Lewat kaca bening yang terdapat di pintu kamar tersebut ku tatap Pian yang terbaring lemas diranjangnya kulekatkan wajahku pada kaca tersebut. Satu demi satu kulihat, infus menetes dan Pian tampak lemah dan tak berdaya. Dia tak sadarkan diri. Kujatuhkan tubuhku di tempat duduk panjang di Rumah Sakit. Air mata ini mengalir, sakit dan haru rasa hatiku.
Esok paginya, Pak Amat datang ke rumahku memberi selembar kartu warna hitam dari Pian.
“Biarlah aku terlelap pada tidurku yang abadi, jangan panggil aku biar aku tenang dan bahagia merangkai mimpi indah!!,” Pak, apa maksudnya??” tanyaku pada Pak Amat.
Tapi dia hanya tersenyum dan meninggalkanku. Akupun berangkat ke sekolah dengan wajah yang sedih tibanya di sekolah. Tika menghadangku saat aku memasuki pintu gerbang sekolah.
“Apa lho!! Hy… Tika knapa??” tanyaku.
“Mana Pian?? Kemana dia?? Kemana… kamu apakan dia??” tanyanya
“Apa maksud kamu!! Aku tak tahu dia dimana Tik!!” tukasku
“Kamukan yang membunuh Pian??” ucapnya sambil memojokku.
“Apa??”
Dia mendorongku, sambil menghapus air matanya. Ku juga tak tahu kenapa dengan Tika. Akupun langsung menuju kelas, dan duduk dibangkuku. Kuambil diaryku kutulis semuanya aku curahkan semuanya. Sepulangnya dari sekolah aku melihat orang berduyun-duyun pergi menuju rumah Pian.
“Ibu!!! Ibu mau kemana?? Kok pakai baju item-item??” tanyaku.
“Ibu mau melayat!! Kami ikut tidak?? Cuma deket kok!!” ucapnya
“Siapa bu yang meninggal?” tanyaku!
“P… Pi.. Pian!!”
“Apa???”
Aku langsung berlari menuju rumah Pian. Aku tak percaya Pian terbujur kaku dan tampak pucat terbungkus kain kafan. Tante Sonya mendekatiku ia menjelaskan bahwa sebenarnya Pian terlambat seminggu tidak melakukan suntik rutin yang sering dilakukan tiap harinya. Sehingga banyak zat besi yang menumpuk dalam tubuh sehingga oksigen dalam darah berkurang. Tepat pukul 16.00 WIB, jenazah Pian dimakamkan di pemakaman sekitar rumah. Tanah warna merah dan harum bunga masih begitu jelas. Namanya terpahat di batu nisan akan abadi dan tak bisa luntur walau hujan membasahinya, begitu pula hadirmu dalam hatiku. Dan aku tak menyangka Pian tinggalkanku, saatku mulai sadar akan hadirnya.

Back

Identitas
Nama : Nunik Widiyati
Sekolah : MAN 2 WATES
Alamat : Jln. Khudlori, Wates, Kulon Progo, Yogyakarta
Telepon : (0274) 773301

Tidak ada komentar:

Posting Komentar