Jumat, 16 Juli 2010

Demi Allah, Aku Menyesal!

Demi Allah, Aku Menyesal!

Oleh: Siti Ngizunafisah 

MAN 2 WATES

 

            Assholatukhoirumminannaum……mmm…!!” Terdengar suara adzan shubuh dari masjid Pondok Pesantren Darul Hikmah. Aku terkejut, secepat kilat aku langsung berdiri dan lari menuju pancuran untuk mengambil air wudlhu. Airnya yang jernih dan dingin, membasuh wajahku sehingga rasa kantuk hilang seketika. Setelah selesai wudlhu aku mengambil mukena,  langsung berlari menyusul teman-teman menuju masjid.

Sudah dua tahun ini aku tinggal di Pondok Pesantren Darul Hikmah. Ya, Pondok Darul Hikmah dibagi menjadi 5 wilayah,di sebelah barat barat wilayah santri putra, di sebelah selatan wilayah santri putri. Di dekatnya ada masjid, di depan wilayah santri putra ada ndalem,dan di dekatnya ada kelas-kelas untuk mengaji diniyah.

Usai menunaikan sholat shubuh berjama’ah, semua santri ngaji di serambi masjid. Antara santri putra dan santri putri diberi sebuah papan sebagai satir (pembatas).  Pagi ini, jadwalnya adalah mengaji kitab Alala, yaitu kitab yang menjelaskan bagaimana membentuk santri yang baik, yang diajarkan oleh Ustadz Habib.Aku sengaja duduk di dekat satir, agar aku bisa bersandar.

“Mencari ilmu syaratnya itu ada enam, coba sebutkan opo wae Zahra?”

Astaghfirullahhal’adhim lahaulawalakuata illabillah…”Aku tak tau bagaimana kata-kata itu keluar begitu lancar dari bibirku. Semua santri sontak tertawa, begitu pulaUstadz  Habib.

Wes tekak ngendi le ngimpi ?”Tanya ustadz Habib.

“Eng…..tidak, Ustadz.....” jawabku.

“Tidak  kepiye?? Le turu nglintek banget ngono kok...

Aku hanya tertunduk malu, tapi setelah beberapa menit kemudian……

“Ya sudah sampai disini dulu, semoga apa yang telah saya sampaikan bisa bermanfaat...”

Amieen………….” jawab semua santri.

Wassalamu’alaikum warohmatullahiwabarokatuh”

“Wa’alaikumussalam warohmatullahhiwabarokatuh” jawab semua santri. “Lek teruske le turu Zahra” kata ustadz Habib sambil beranjak dan berlalu.

Semua santri kembali ke tempat masing-masing. Aku pun bergegas masuk ke kamar, yang ditempati bersama delapan santri. Setelah mukena kulipat rapi, aku langsung mengambil handuk dan sabun lalu berlari ke kamar mandi. Sesampainya d sana, ternyata antriannya sudah banyak.”Ya Allah....nunggu lama lagi. Kemarin nunggu lama,  sekarang juga nunggu! Wah.....dasar, budaya nunggu!!!” Gerutuku.

***

Buru-buru kupakai seragam, kemudian memakai jilbab dan langsung mengambil tas. ”Untung tadi malam aku sudah njadwal!!”  Batinku.

“Zahra ……..cepat, sudah jam tujuh kurang sepuluh!!” Panggil Fajri .

“Iya…..sabar dulu, baru pakai sepatu!!” Sejurus kemudian aku dan Fajri bergegas berangkat sekolah.

Fajri Nikmatullatifah, adalah sahabat karibku. Aku dan Fajri satu kelas dan sebangku. Aku selalu curhat dengannya kalau ada masalah. Dia juga yang mengajariku bahasa jawa, sehingga aku sedikit-sedikit mengerti bahasa jawa. Pagi yang cerah di kampung Maduretno. Alampun bertasbih memuji segala keagungan-Mu... Batu-batu di balik lipatan air menyungkur sujudkan wajah pada hamparan bumi dan bentangan langit-Mu…. Subhanallah, karunia-Mu sungguh indah.Maha besar Engkau dengan segala kekuasaan-Mu. Tiada yang bisa menandingi kekuasaan-Mu.

Aku dan Fajri melewati pematang sawah yang menghijau yang dihiasi oleh hutan yang menghijau dan gunung yang menjulang tinggi di sebelah utara. Kicau-kicau burung menambah riuh suasana,

Subhanallah ,Engkau titiskan keindahan yang begitu sempurna,” gumamku.

“Aduh …..iso telat iki,” seru Fajri.

Biarin, Pelajaran pertama kan Pak Kusno, bikin ngantuk...” celetukku.

“Ya…..lek ngantuk ki gaeanmu ….”

Enak ae, emang sampeyan ra tau ngantuk po,” elakku.

Fajri cuma tertawa. Setelah Aku dan Fajri sampai di depan pintu gerbang sekolah, Aku berhenti. Jantungku berdetak kencang, darahku berdesir, tubuh ini gemetar. Aku bertemu dengan Kang Iqbal. Aku sadar dan aku melanjutkan langkahku.

“Zahra……..,”

Dalem…..” Aku langsung menengok.

“Ehm….ehm…, mau bicara? Ya sudah...aku takut ganggu, aku hdisik yo Ra......” Goda Fajri.

“Eeh….iya, maaf ya....... ”Fajri menyadarkanku.

Setelah Fajri hilang dari pandangan mata, Kang Iqbal mendekat. Tubuhku tambah gemetar.

“Neng Zahra..... kalau nanti aku sms, sampeyan keberatan gak?” Tanyanya.

“Ehm… Tidak Kang, asalkan jangan sampai malam. Besok Zahra ada ulangan.!!?”

”Ehm…..emangnya Kang Iqbal tidak masuk??” Tanyaku.

“Oh iya….sampai lupa,  Assalamu’alaikum….”

“Wa’alaikumsalam”

Di saat Aku menengok ke belakang ternyata kang Iqbal masih memandangku dan tersenyum kepadaku.Aku pun membalas senyum kepadanya.

***

Sudah tiga bulan aku menjalin hubungan dengan kang Iqbal. Kami menggunakan media HP untuk saling kontak. Padahal jelas-jelas di pondok ada larangan tidak boleh membawa HP.  Karena HP itu dianggap barang yang mudharat.

Jam pertama pelajaran Pak Kusno, Sejarah. Aku dan Fajri malah asyik ngobrol dan tidak mendengarkan apa yang disampaikan oleh Pak Kusno.

“Eh…Fajri, kira-kira acara Haul besok malam, ramai seperti tahun kemarin tidak ya?” Tanyaku

“Ya iyalah….pasti ramai.Tapi, Aku dapat tugas mengurusi ndalem,” keluh Fajri.

“Emangnya kenapa, diberi kepercayan kok tidak mau???” Jawabku.

Ya…bukannya ngono, soalnya aku terus gak iso metu.....” Sambil senyum.

Uh…kamu tu pikirannya jajan terus....”

Bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi. Aku dan Fajri segera keluar. Terik matahari yang begitu panas menyengat kulit. Di tengah perjalanan aku melihat seseorang yang aku kenal menggunakan motor dan memboncengkan seorang gadis yang membawa tas besar. Seketika itu aku berhenti.

Astagfirullah itu kan Kang Iqbal, siapa yang dibonceng itu???” batinku.

“Ngopo Ra, kok mandek?” Tanya Fajri.

“Itu….itu kan Kang Iqbal, jawabku sambil menunjuk orang tadi.

“Mana ????”  Tanya Fajri sambil celingak-celinguk.

“Itu yang pake motor, boncengin cewek,”

“Alah…mungkin sampeyan salah lihat ,”

Aku dan Fajri kemudian neneruskan perjalanan, pikiranku tak karuan.”Aku tidak  menyangka Kang Iqbal tega berbuat seperti itu. Memang salah Zahra apa? Pikirku.

Aku dan Fajri sengaja lewat belakang, karena di depan sudah banyak santri putra yang sedang mendekorasi panggung untuk nanti malam. Semua santri sangat sibuk. Santri yang masih sekolah, besok akan mendapat dispensasi tidak berangkat sekolah. Jadi, besok aku tidak berangkat sekolah. Begitu sampai di pintu belakang aku bertemu kang Iqbal. Aku hanya diam saja, hati ini rasanya dongkol sekali.

“Zahra sampeyan kenapa kok diam saja,”Tanya kang Iqbal. Kang Iqbal mendekat.

“Jangan dekat-dekat….”sambil kukeraskan suara.

“Neng Zahra, salah Kang Iqbal apa?”

“Kenapa Kang Iqbal tega sama Zahra, hati ini sakit kang....!!! Sakit!!!” Jawabku agak terisak.

“Aku gak ngerti maksudmu....” Kang Iqbal geleng-geleng.

“Kang, mata Zahra tidak buta. Kang Iqbal rela bolos hanya demi mengantar seorang gadis....”

Astaghfirullahhaladzim Neng... kenapa Neng Zahra suudzan sama Kang Iqbal???”

Suudzan..? Jelas-jelas tadi Zahra melihat dengan mata kepala sendiri Kang Iqbal  memboncengkan seoarang gadis!!!”

‘Ya Allah Neng Zahra… Itu sepupuku,  waktu jam terakhir aku disuruh menjemputnya di terminal. Dia juga santri sini kok, kamu tidak kenal?” Jelasnya sambil tersenyum. Aku hanya menggeleng.

 “Iya Ra, namanya Nurul. Aku tadi tidak lihat orangnya.....”Timpal Fajri. “Ya…kupikir sampeyan sudah tahu….”

Aku tertunduk malu. Tapi aku tak mau minta maaf sama Kang Iqbal. Huh, aku terlanjur dongkol, juga malu. Biarlah....

”Lain kali jangan ambil kesimpulan tanpa ada bukti dan pikir panjang. Akibatnya seperti ini kan? Neng Zahra juga  harus percaya sama Kang Iqbal. Tak bakalan saya menghianati Neng Zahra.....” Huh! Dia mulai gombal lagi! Tapi aku juga suka mendengarnya. Zahra juga tak akan menghianati Kang Iqbal....

Senja tampak sendu di balik kemilau kabut, warna merah yang terpancar dari sinar matahari kian tampak memperteduh suasana. Suara adzan dari Pondok Darul Hikmah kian menambah suasana menjadi sahdu. Semua santri menuju masjid untuk sholat Maghrib berjamaah. Usai sholat, tidak seperti biasanya santri langsung mengaji. Saat ini ngaji diliburkan, karena ada acara haul besok malam. Jadi santri diminta untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

****

Sang surya telah menampakkan batang hidungnya. Aku sedang menuju jemuran yang ada di belakang santri putri. Sesampainya di sana, seperti ada petir yang menyambar. ”Apakah aku salah lihat? Aku langsung lari ke kamar, Aku tidak kuat menahan perih dan derai air mataku. Di kamar tak ada siapa-siapa, maklum semua santri sedang sibuk. ”Kenapa Fajri tega sama aku, dia telah menusukku dari belakang. Ternyata selama ini di juga punya hubungan khusus dengan Kang Iqbal. Padahal selama ini aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri,” ucapku lirih sambil menahan air mataku, tapi aku tak kuasa.

Terdengr suara langkah kaki menuju kamar, pintu terbuka, dan ternyata Fajri dengan tampang yang berseri-seri masuk kamar.

“Zahra kamu kenapa? Kamu sakit?” tanyanya kaget melihatku.

“ Ya,aku sakit, sakit hati!!” Jawabku.

Emang atine sampeyan loro opo?” Tanyanya lagi.

“Karena penghianatan sahabatku. kamu tega sama aku, Jri.....” Jawabku.

Emange aku salah opo Ra?”

‘Aku tambah tidak paham kalau kamu pakai bahasa Jawa terus. Teganya kamu menghianatiku. Selama ini kamu juga punya hubungan khusus sama Kang Iqbal, kan? Kamu kira aku tidak melihat kamu sama Kang Iqbal berkhalwat di jemuran? Aku punya mata Fajri!!!” Bentakku.

“Ya ampun Ra ,aku bisa jelaskan semuanya, kamu salah paham,” Jelasnya.

Aku tak menggrubis omongan Fajri,aku langsung lari,

Malamnya pada saat Haul aku tidak keluar. Aku hanya di kamar saja, menangis. Fajri juga disibukkan di ndalem, jadi dia tidak menemuiku lagi. Di luar sana ramai, ada hadrohnya juga,tapi aku tidak lagi tertarik.

Drt….drt…., ada sms masuk. Aku lihat ternyata Kang Iqbal. ”Neng.... kamu di mana?Aku pengen ketemu, aku tunggu di jemuran’ Tak kugubris sms itu. Hati ini sakit, dia bermanis-manis, padahal nyatanya dia bermain di belakangku. Akupun tertidur karena capek.

Pagi harinya aku seperti tak punya semangat. Mataku masih sembab. Aku tak ada semangat untuk sekolah. Hari ini terasa berat bagiku. Pagi ini aku berangkat sendiri, tadi pagi Fajri mencoba berbicara dan menjelaskan kepadaku, tapi aku langsung berlalu. Di dekat gerbang sekolah aku bertemu dengan kang Iqbal, ingin rasanya kutampar wajahnya yang sok suci. Tapi apalah dayaku, aku adalah seorang wanita yang harus menjaga sikap.

 “ Neng Zahra, sampeyan kenapa kok diam saja? Tadi malam sms Kang Iqbal juga tidak dibalas? Aku telepon berkali-kali juga tidak diangkat. Mana Fajri? Kok tumben tidak berangkat bareng????”

“Oh…Fajri….sekarang Kang Iqbal nyari Fajri?” Tanyaku kesal.

“Neng.....maksudnya apa?” Tanyanya kebingungan.

“Itu Fajri yang Kang Iqbal cari...... ” Sambil menunjuk Fajri yang datang dari kejauhan.

“Ra..tunggu..aku jelaskan semuanya, mumpung ada Kang Iqbal....” Kata Fajri sambil berlari. Kang Iqbal tampak kebingungan.

“Kang, Zahra tu nuduh kita berkhalwat dijemuran,” kata Fajri.

Astagfirullah Neng.....,tidak mungkin aku berbuat seperti itu,” jawab Kang Iqbal.

“Jelas-jelas kemarin aku lihat Kang Iqbal berduaan sama Fajri di jemuran, sambil ketawa-ketawa lagi,” kataku kesal.

“Ra, aku tidak mungkin merebut Kang Iqbal dari Sampeyan. Saat aku menjemur, Kang Iqbal datang. Dia menanyakan sesuatu sama aku tentang  apa yang kamu suka, karena dia ingin memberikan kejutan untuk kamu Ra....” jelas Fajri.

“Iya Neng...., tidak mungkin aku selingkuh sama Fajri,” kata Kang Iqbal.

“Beneran kalian tidak bohong?” Ucapku lirih.

“TIDAK!!!!” Jawab mereka bersamaan.

Aku langsung memeluk Fajri. Aku sudah menuduh sahabat karibku sendiri. “Maafkan aku ......, harusnya aku percaya sama kamu, kamu adalah sahabat baikku, kamu tidak mungkin menghianatiku,” kataku lirih.

Pulang sekolah begitu menyenangkam, aku sudah baikan lagi sama Fajri. Panas matahari yang menyengat pun tak terasa olehku. Sesampainya di depan kamar putri, aku terkejut. semua santri putri keluar dan sepertinya ada ramai-ramai.

“Eh itu Zahra sama Fajri,cepat sini. Serahkan tas kalian,” seru pak Habib.

“Tapi…..,” jawabku ragu.

“Cepat, tidak ada tapi-tapian!!” Sambil merebut tas kami.

Pak Habib lalu menggeledah tas kami berdua, dan mengeluarkan semua isinya.

“Ini apa Zahra? Sambil menunjukkan sesuatu yang ditemukannya dalam tasku.  Meneng-meneng kaya ngene yo,” kata Ustadz Habib. Aku hanya bisa diam melihat HPku dibawa. setelah razia selesai semua santri boleh masuk lagi. Duh, aku tak tahu bagaimana kalau isi sms ketahuan Utadz Habib, karena seingatku sms dari Kang Iqbal belum kuhapus. Usaha Fajri untuk menenangkan aku pun, tak lagi mampu menghapus rasa khawatirku....

 “Zahra…….kamu disuruh menghadap pak Habib di kantor,” seru mbak Zain. Aku bergegas menuju kantor. Sesampainya disana sudah ada Ustadz Habib, Pak Arifin,dan Kang Iqbal. Aku hanya menunduk. “Kowe cah loro ki do ra duwe adab ngisin-isinke pondok.Iki foto apa? gak duwe isin. yen nganti pak Kyai ngerti yen ana santrine seng kaya ngene rak yo kecewa,” kata Ustadz Habib, pasti semua orang juga tahu, dari nada bicaranya, Ustadz telah marah besar….. Ustadz Habib menyodorkan HPku dan memperlihatkan fotoku dengan Kang Iqbal, yang kuingat diambil di dekat sawah beberapa sore lalu. Aku dan Kang Iqbal hanya diam.

Wes saiki karepmu kepiye, po are do nikah?” Kata Pak Arifin dengan sabar.

Kulo kaleh Zahra nyuwun ngapunten Ustadz......” Kata kang Iqbal.

Yo wes, saiki arep di ta’zir apa iki Pak Habi?” Tanya Pak Arifin.

“Dikeluarkan sekalian!!! Kenapa.....ngisin-isini..!!!” Jawab Ustadz Habib.

Setelah kejadian itu, hanya penyesalan yang kurasakan. Aku malu dengan semua santri dan para ustadz. Aku memutuskan hubunganku dengan Kang Iqbal. ”Ya Allah mafkanlah segala khilafku......” batinku. Akupun keluar dari pondok karena tak kuat menanggung malu. Sebenarnya aku masih mencintai Kang Iqbal, namun biarlah rasa ini kupendam saja, aku yakin ini semua kesalahanku karena membiarkan hati digoyahkan suatu perkara yang belum saatnya untuk memasuki maqom itu, aku akan memulai semua dari awal dan memperbarui niatku sebagai pelajar dengan belajar, berjuang dan bertaqwa sebagai orientasiku untuk sukses dunia akhirat.

Aku sadar, apa yang aku sebut cinta ternyata aku salah dalam mengartikannya. Terbukti dengan berbagai persoalan yang sebenarnya itu tidak perlu terjadi. Ya, karena cinta aku mengkhianati amanah orang tua, kakak, adik yang menaruh harapan padaku. Karena cinta aku lupa terhadap cita-cita. Karena cinta aku menjadi tertutup segala potensi, prestasi, dan kesempatan.  Karena cinta aku berani melanggar syari’ah......Yaa Allah ampunilah aku....dan tetapkanlah hatiku menjadi hamba yang sholihah.......Demi Allah aku menyesal !!!! Aku tidak mau cinta yang seperti ini.....

Jika cinta akan mendatangkan kebahagiaan itulah Cinta Sejati, namun jika cinta justru menjadi racun yang mengaburkan cita dan Cinta Sejati, maka itu sesungguhnya bukanlah cinta karena cinta adalah mahabahtullah yaitu jalan untuk menggapai bahagia dunia akhirat..........

            SELESAI........................

 

 

                         

                       

           

 

1 komentar:

  1. Assalamu'alaikum bu siwi..bu ini siti ngizu buk..td iseng" buka trus nemu cerpen ini..masih gk nyangka kalo saya nulis cerpen ini.trmksih bu siwi

    BalasHapus